SIMULASI

 


Oleh Enang Cuhendi

 

Alhamdulillah akhirnya mobil berhenti di depan apartementku. Rasa rindu sudah begitu membuncah dalam diri. Di pelupuk mata yang terbayang hanyalah keluarga kecilku. Sudah sebulan aku meninggalkan mereka untuk tugas luar dari kantorku. Tugas yang sebenarnya ingin kutolak karena istri kurang menyetujuinya. Ia khawatir aku terpapar Covid-19, mengingat kota yang akan kudatangi termasuk dalam katagori zona merah. Hanya karena tidak ada orang lain yang bisa menyelesaikan  tugas ini, akhirnya terpaksa aku pergi.

Setelah membayar tarif dan sedikit tips untuk pak sopir, aku turun. Saat di depan gerbang apartement mataku menangkap situasi yang berbeda. Begitu banyak orang di luar. Hal yang tidak biasa dari keseharian di apartemenku yang relatif tenang. Terlihat banyak yang lari ke sana kemari. Polisi, SAR dan pemadam kebakaran nampak berseliweran. Semua nampak serius dan seperti ada sedikit kepanikan dengan mata tertuju ke lantai atas.

Seketika pikiranku berubah jelek. Membayangkan hal-hal yang negatif. Terbayang kembali wajah istri dan anak-anakku. Mereka kan tinggal di lantai atas. Seketika aku berlari menuju lift yang kebetulan kosong. Kupijit angka 9 tanda menuju lantai 9 tempat kami tinggal. Sekeluar dari lift, setengah berlari aku menuju kamar 911. Kutekan bel dengan sedikit ekstra. Pintu pun terbuka. Aku kaget sekaligus gembira.  “Oh, itu sedang simulasi bencana, Pah” jawab istriku dengan sedikit tersnyum.

 

Cicalengka, Ba'da Isya, 19 September 2020 

 Pentigraf #5

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "SIMULASI"

Post a Comment