Tatapan Polos

 

Oleh Umie Noor


Dari dapur terdengar ceret berbunyi nyaring, menandakan air yang sedang kumasak sudah mendidih. Kulepas mukena dan bergegas menuju dapur. Aku tuang air yang sudah mendidih kedalam ember, lalu aku membawanya menuju kamar ibu. Saat melewati ruang tengah, kulirik jam didinding yang sudah menunjukan pukul 04:00 WIB.

Perlahan aku buka pintu kamar ibu, nampak ibu masih terlelap dalam tidurnya. Aku langsung menuju kamar mandi diujung selatan kamar. Aku letakan ember diatas bak lalu  ku tambahkan beberapa gayung air. Aku keluar dari kamar mandi dan berniat merapikan kamar ibu. Kuambil sapu yang tergantung di dinding dekat pintu kamar mandi. Kurapikan beberapa pakain  kotor ibu yang tergelatak di lantai, lalu kusapu dan kupel lantai kamar, tidak lupa aku letakkan beberapa butir kapur barus di sudut kamar dan di bawah tempat tidur. Selesai merapikan kamar, aku melanjutkan pekerjaan dengan menyikat dinding dan lantai kamar mandi.  Saat aku menyiramkan  air dari gayung yang terakhir, kumandang azan  shubuh pun terdengar dari mushola dekat rumah, dan disusul kumandang azan dari mesjid komplek.  Aku bergegas menuju kamar mandi belakang dengan membawa pakaian ibu yang hendak aku cuci.  Aku masukan pakaian ibu ke mesin cuci dan menambahkannya dengan deterjen, lalu aku nyalakan mesin cucinya. Aku ambil wudhu untuk menunaikan salat subuh. Terdengar pintu samping dibuka, rupanya suamiku hendak menuju mesjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah.

Selesai subuh dan tilawah, aku menuju kamar ibu. Pintu kamar yang tadi kubiarkan terbuka, membuatku mudah untuk segera masuk ke dalam kamar. Baru saja kepalaku melongok ke kamar, nampak ibu sedang berdiri di samping tempat tidur dan kakinya beralaskan selimut yang tadi beliau pakai. Begitu melihatku, dengan tatapan polosnya ibu berkata “lbu pengen pipis”. Padahal beliau berdiri di atas selimut sambil buang air kecil.

Aku menjawab ibu dengan senyuman kecil sambil membatin “Ya Allah, baru saja lantainya aku pel”. Aku mendekati ibu, dan kupegang kedua tangannya, kubiarkan beliau menyelesaikan hajatnya.

“Bu, mandi ya!” ajakku.

“Ya”. Jawab ibu singkat.

Aku papah ibu menuju kamar mandi dengan menuntun kedua tangannya. Aku lepas pakain ibu, dan mendudukannya di atas kloset. Ibu tidak berkata-kata, hanya pandangannya yang mengikuti setiap yang aku lakukan.

“Bu, keramas ya!”, kataku

“Iya” lagi-lagi ibu menjawabku singkat.

Perlahan aku siramkan air hangat yang telah aku siapkan tadi ke bagian kepala dan tubuh ibu. Ku beri shampo dan kuusap-usap rambutnya yang sudah memutih, tangan ibu mengucek matanya yang terkena air. Perlahan kusabun tubuh, punggung, dan ku usap tangan ibu yang sudah keriput dan nampak lemah. “Ya Allah, dengan tangan ini dulu ibu merawat, mengurus dan  membesarkan kami anak-anaknya. Bahkan dengan tangan dan kaki ini ibu banting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolah kami anak-anaknya” Aku membatin.

Ingatanku melayang ke masa silam. Puluhan tahun, ibu berjualan pakaian, keliling dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki. Hujan dan panas terik, tidak dihiraukanya. Bahkan saat musim hujan, saat sungai banjir, ibu harus bertarung nyawa menyeberangi sungai agar bisa pulang setelah berjualan karena kami anak-anaknya sudah menunggu. Almarhum bapak dulu memang seorang guru PNS, tapi untuk membiayai lima anak sampai jenjang perguruan tinggi sangatlah kurang jika tidak di topang oleh ibu.

Tidak terasa dua anak sungai mengalir dipipiku. Aku berdiri membelakangi ibu untuk mengambil sikat kuku yang terletak di rak., sambil kusembunyikan air mataku dari ibu. Kuseka mataku dengan punggung tangan.  Aku berbalik berjongkok lalu menyikat kuku kaki ibu.

“Dulu Neneng dimandiin ibu, kenapa sekarang harus membalasnya?” tanya ibu sambil tersenyum. Lagi-lagi senyum polos yang aku dapati.

“Ga papa Bu, sudah waktunya gantian” jawabku. Sambil kuambil segayung air untuk membersihkan kaki ibu.

“Bu, disiram sekali lagi ya” kataku. Sambil menyiramkan air dari kepala hingga ke seluruh tubuh.

“Sudah selesai, Bu. Yuk, pakai handuk”, kataku

“Ibu belum wudhu” jawab ibu.

“Iya, sekarang wudhu” jawabku. Sambil menyiramkan air ke wajah dan ke anggota wudhu yang lain.

“Tunggu sebentar ya, Bu” pintaku

“Neneng mau ke mana?”, tanya ibu.

“Mau ngepel kamar” Jawabku, sambil membawa ember sisa air mandi dan ku ambil kain pel yang tergantung di sudut kamar mandi.

Aku ambil selimut basah yang masih tergelatak di lantai dan memasukannya ke dalam ember yang kuletakan di pintu kamar. Aku melanjutkan membersihkan air seni ibu dan mengepelnya berulang kali agar tidak ada lagi najis yang tersisa. Selesai mengepel lantai, aku tuntun ibu untuk berpakaian dan menunaikan salat subuh.

“Ya Allah, kenapa make mukena aja ibu susah banget” keluh ibu di sela-sela berpakain.

“Ya, wajar Bu. Kan kekuatan Ibu, sudah Allah ambil lagi, sedikit-sedikit” jawabku sambil mengikatkan tali mukena di bagian belakang kepala ibu.

“Sudah Bu, sekarang subuh dulu ya!” Pintaku sambil berlalu.

“Iya” jawab ibu. Terdengar ibu memulai membaca niat kemudian di iringi dengan takbirotul ikhrom.

“Ya Allah, beri kekuatan pada Ibuku. Jadikanlah beliau husnul khotimah”, . batinku . Tak terasa, dua butir bening kembali jatuh menetes.

Terbayang kembali tatapan polos ibu yang seperti tanpa merasa berdosa jika melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Persis seperti tatapan polos anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Apakah ini yang sering di ungkapkan orang “kembali seperti anak-anak?”. Wallahu ‘alam bisshowab.

Indramayu, Medio 09-09-‘20


Tentang Penulis

Nama Lengkapnya Ilah Jamilah.Teman-teman semasa kuliah dulu memanggilnya   Umie. Sampai sekarangpun kalau mereka berkomunikasi  mereka masih memanggilnya seperti itu. Jadi sejak kuliah dulu penulis  mempunyai nama lain Umie Noor. .  Lahir di Ciamis 16 Februari 47 tahun silam. Ayahnya seorang guru, karena itu pulalah dia disarankan kuliah di jurusan keguruan. Tahun 1997 penulis lulus S1 jurusan  Pendidikan Agama Islam dari IAIN Sunan Gunung Djati Cirebon. Tahun 2012, lulus Pasca sarjana prodi Administrasi Pendidikan di Universitas Majalengka. Karena tidak linier dengan tugas keseharian, akhirnya kuliah lagi  PGSD di UT dan lulus tahun 2017.- Sejak kecil suka membaca dan menulis, terutama fiksi. Karena dalam fiksi dia merasa bisa bebas berekspresi.




Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "Tatapan Polos"

  1. Terima kasih untuk apresiasinya untuk karya sederhana ini

    ReplyDelete
  2. Terima kasih untuk apresiasinya untuk karya sederhana ini

    ReplyDelete
  3. Betul sekali, menulis tentang ibu selalu tidak pernah habis.habis. kasih untuk suportnya Pak

    ReplyDelete