Bukan Anak Raja atau Ulama, Jadilah Penulis!

oleh Èsèp Muhammad Zaini


Allahumma sholi ala Sayidina Muhammad, sholu alaih.


Ada hal penting perintah Allah Swt. dalam Alquran surat al-Alaq, yaitu perintah membaca (iqra) dan Allah memberi teladan untuk menulis (qalam). Tentu saja, yang namanya perintah termasuk katagori wajib kita lakukan. Setelah membaca, tentu kita beroleh informasi dan ilmu pengetahuan. Maka, sebaiknya kita tuliskan agar ilmu itu menyebar ke segala penjuru. Itulah, salah satunya yang disebut ilmu bermanfaat.


Ilmu pengetahuan layaknya harta kekayaan. Apabila tidak disedekahkan, akan sia-sia. Bahkan, konon akan mendakwa kita di alam baka. Sebab, ilmu itu amanah. Menimba ilmu itu wajib. Seperti apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya. Dan, mengamalkannya sungguh perbuatan yang mulia.


Imam Syafei dan Imam Ghazali hingga kini dikenal oleh umat (Muslim, khususnya), bukan sekadar berilmu, tetapi karena keduanya selalu menuliskan ilmu itu. Hal itu menjadi warisan besar bagi umat muslim berikutnya. Dengan menulis, ilmu pengetahuan bukan hanya menerangi dirinya, melainkan juga seluruh umat.


Bagi kita pun, menulis harus dijadikan media dakwah. Mengajak ke arah yang lebih baik. Juga, berusaha untuk menunjukkan hal yang tidak baik. Setidaknya, penulis akan masuk katagori beriman tingkat dua. Sebagaimana hadits Nabi berikut ini.


Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata, "Saya mendengar Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda: Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman," (Riwayat Muslim).


Pelajaran yang terdapat dalam hadits:

1. Menentang pelaku kebatilan dan menolak kemungkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya.

2. Rida terhadap kemaksiatan termasuk di antara dosa-dosa besar.

3. Sabar menanggung kesulitan dan amar makruf nahi munkar.

4. Amal merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemungkaran juga merupakan buahnya keimanan.

5. Mengingkari dengan hati diwajibkan kepada setiap muslim, sedangkan pengingkaran dengan tangan dan lisan berdasarkan kemampuannya.


Tentunya, kita selalu berharap kepada Allah Swt. tidak termasuk yang memiliki keimanan paling rendah, yaitu hanya ingkar dalam hati ketika melihat kemungkaran. Dalam hadits tersebut terungkap, "jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya". Yang dimaksud lisan dalam hadits itu, tentu saja bukan hanya ucapan, tetapi termasuk juga tulisan. Sebab, tulisan merupakan dokumentasi dari lisan.


Tulisan bukan hanya dakwah untuk orang lain, melainkan juga untuk si penulisnya. Sebagaimana ungkapan: "mulutmu, harimaumu" atau "senjata makan tuan". Sebab, penulis bukan orang serba hebat. Apalagi sempurna. Akan tetapi, penulis harus berniat "balighuani walauayah", sampaikanlah pengetahuan itu walau hanya satu ayat. Semoga ayat itu menjadi pemicu dan pemacu semangat untuk melakukan sesuatu yang lebih baik.


Dalam menulis enyahkan rasa sungkan atau malu karena khawatir tulisan kita tidak berguna bagi orang lain. Atau, bahkan khawatir disepelekan atau dilecehkan. Jangan takut dan khawatir. Apalagi, yang mencibir tulisan kita itu tidak pernah atau belum menulis.


Apa yang kita tuliskan, pasti selalu ada manfaatnya bagi para pembacanya. Tentu saja, tergantung tingkat daya baca dan daya serap pembacanya. Sila, penafsiran itu diserahkan sepenuhnya kepada para pembaca. 


Saya teringat ungkapan salah seorang penulis hebat, Hernowo, "Bagi saya, menulis adalah menunjukkan 'sesuatu yang penting dan berharga' yang kita miliki. Kita menulis karena kita ingin menunjukkan sesuatu yang berbeda yang kita miliki tersebut. Jika yang kita tulis adalah hal-hal biasa dan sama saja dengan yang ditulis oleh orang lain, selain kita akan bosan maka kita juga tidak akan memiliki rasa percaya diri atau karakter", (Hernowo Hasim, KREASI Penggerak Literasi, 23/9/2016).


Maka, menulislah tentang apa yang kita ketahui. Sebab, menulis bisa mengefektif-efisienkan ruang dan waktu. Dan, yang terpenting, jadikanlah menulis sebagai bagian dari ibadah. Urusan pahala, kita serahkan kepada Sang Pemilik kita dan alam ini.


_"Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis," kata Imam Al-Ghazali._


_Esep Muhammad Zaini adalah Pembina Yayasan Mama Shoheh Bunikasih, Ketua Yayasan Guneman Bandung, Ketua Yayasan KAGUM Bogor Raya, Ketua Yayasan Guneman Kamilah Almunawar Cianjur, CEO CV Guneman Media Persada Bandung, Ketua Tanfidziyah NU Mekarwangi Warungkondang Cianjur._

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bukan Anak Raja atau Ulama, Jadilah Penulis!"

Post a Comment