KEHILANGAN YANG MEMBAWA KEBERUNTUNGAN


 Zivka Ramadhani

Siswa 9-1 SMP Darul Hikam Kota Bandung

Sinar matahari sepertinya sudah memenuhi setiap sudut di kamarku. Perlahan aku membuka kedua mataku. Tepat saat aku bangun dari tempat tidurku, alarmku berbunyi. Aku mematikan alarmku dan aku menyadari bahwa aku sudah sangat terlambat sekarang.

Aku menyelesaikan sarapanku dengan sangat cepat. Lalu segera berpamitan dengan kedua orang tuaku. Tak lupa juga menyapa Lion, kucing kesayanganku. Aku berlari keluar dari rumah dan segera menuju ke halte bis yang tidak jauh dari rumahku. Aku menunggu kedatangan bis sambil memainkan ponselku. Di Instagram, aku mendapatkan satu pesan dari seseorang yang akan aku temui pagi ini. Aku semakin tidak sabar untuk bertemu dengannya. 

Setelah perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya aku sampai di cafe tempat aku akan bertemu dengan seseorang. Aku memasuki cafe “Dynamite” lalu mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang akan aku temui. 

“Kia!” Aku memangil namanya. Ia menoleh dan tersenyum melihatku, aku juga membalas senyumnya. Aku berjalan mendekatinya dan duduk tepat di hadapannya.

“Nara! Akhirnya kamu sampai juga!” Ia menyambutku dengan penuh semangat.

“Maafkan aku, aku sedikit terlambat.” 

“Hey, ayolah, aku bukan seorang klien yang tidak bisa menunggu lama.” Ia tertawa melihat diriku meminta maaf padanya. 

“Aku serius meminta maaf dan kau malah tertawa.”

“Hahahaha, baiklah, aku menerima permintaan maafmu.” Ia terkekeh sekali lagi.

Kia adalah teman satu kelasku di SMA Diraga. Aku mulai kenal dengannya saat kegiatan Masa Orientasi Siswa. Dan tak disangka, ia adalah teman sekelasku sekarang, kelas 1 SMA. Hari ini aku dan dirinya bertemu untuk membahas tugas kami. Aku dan Kia memiliki tugas untuk membuat sebuah rancangan pakaian. 

“Jadi bagaimana, Ra?”

“Aku telah membuat beberapa rancangan.” Aku mengeluarkan selembar kertas dari tasku dan menunjukkannya pada Kia.

“Bagaimana menurutmu, Kia?”

“Nara.” 

“Bagaimana? Tidak bagus, ya?”

“Kau ini bicara apa, ini jelas sangatlah bagus!” Aku tersenyum mendengar pujiannya. 

“Tapi aku pikir, lebih baik kamu yang memberikan warna pada rancangan itu. Aku tidak berbakat dalam hal itu, Kia.”

“Hahaha, baiklah. Menurutmu, akan lebih bagus jika aku tambahkan warna apa?”

“Kia, sudah aku bilang aku tidak pandai dalam hal itu.”

“Eh, maafkan aku. Aku lupa dengan fakta itu.” Aku hanya membalas nya dengan senyuman pasrah. Dan dia terkekeh lagi. 

Aku dan Kia terus membahas rancangan kami. Mulai dari aksesoris dalam pakaiannya, warna yang tepat untuk rancangannya, dan masih banyak lagi. Hingga 45 menit berlalu, aku dan Kia mengakhiri pertemuan kita. Aku kembali ke rumahku.

Sesampainya di rumah, aku tersenyum melihat Lion sudah menungguku di depan pintu kamarku. Melihat wajahnya, membuatku tersenyum! Wajah lucunya membuat aku gemas!

“Nara, kau sudah pulang?”  Ayahku tiba-tiba sudah berada di sampingku. Aku sedikit terkejut melihatnya.

“Ayah mengejutkanku.” Aku mencium punggung tangannya. Ayah hanya tersenyum menatapku.

Aku segera masuk ke dalam kamarku. Aku melihat sebuah foto terpajang di atas meja belajarku. Rasa sedih kembali mendatangi hatiku. Kak Raga berada di foto itu. Tidak bisa dipungkiri lagi betapa aku merindukannya. Tiba-tiba saja, air mataku mengalir perlahan-lahan.

“Kak Raga, aku mohon, kembali ke rumah,” ucapku dalam hati.

Raga Galaksi. Kakak kandung sekaligus teman di rumah bagiku. Aku selalu menghabiskan waktu di rumah bersamanya. Kak Raga merupakan seseorang yang sangat mengerti perasaanku. Setiap aku memiliki masalah, ia selalu lebih dulu mengajakku untuk bercerita kepadanya tentang masalah yang aku lalui. Kak Raga selalu mengiburku setiap waktu. Namun sudah satu minggu berlalu, ia belum juga kembali ke rumah. Kak Raga pergi karena adanya konflik antara dirinya dengan ayah dan bunda. Mimpinya untuk menjadi seorang pemain sepatu roda, dilarang oleh ayah dan bunda.

------

Hari berikutnya. Kesedihan yang baru mendatangiku. Lion, si kucing belang kesayanganku, menghilang. Bagaimana bisa ia melakukan hal yang sama dengan kak Raga? Lion kabur dari rumah, entah mengapa. Bunda mengatakan bahwa kemarin, saat aku sedang bersekolah, Lion tiba-tiba saja berlari meninggalkan Bunda dan pergi entah kemana. Bunda sudah mengejar Lion sampai pintu masuk komplek rumahku, tapi setelah itu, Lion tidak terlihat lagi. Bunda bilang, Lion masuk ke dalam semak-semak dan menghilang. Aku menangis mendengarkan cerita Bunda.

Hari berikutnya aku kembali mencari Lion. Aku mencarinya hingga taman kota yang cukup jauh dari rumahku. Aku memanggilnya dengan suara yang bergetar. Lion satu-satunya teman yang bisa aku ajak bermain di rumah. Aku tidak punya teman lagi selain Kak Raga dan Lion di rumah. Tapi keduanya menghilang. 

Aku sempat menyerah di tengah perjalanan, tapi aku membayangkan bagaimana jika Lion diculik. jika ia tidak diberi makan dan minum, jika ia kedinginan, aku sungguh tidak bisa membayangkannya. Hingga saat aku sedang meminum air mineralku, aku melihat sebuah ekor kucing dari semak-semak di sampingku. Aku mendekatinya dan aku melihat sebuah corak yang tidak asing di mataku. Saat aku membuka semak-semaknya, aku melihat Lion disana! Aku yakin itu adalah Lion! Aku memanggilnya, dan Lion berlari ke arahku. Sungguh aku merasa sangat senang dan terharu melihatnya. Aku segera membawanya ke dalam pelukanku, tidak peduli kotornya tubuh Lion. Aku memeluknya dengan sangat senang. 

“Miaw” Terdengar suara khasnya. Aku terharu mendengarnya dan memeluknya semakin erat sambal tersenyum penuh bahagia. Namun saat itu juga, ada seseorang yang menepuk pundakku dari belakang. Aku membalikkan tubuhuku dan melihat wajah yang tertutup oleh topi.

”Itu kucingmu?” Terdengar suara berat seseorang yang berada tepat di hadapanku.

“I .. iya.” Aku menjawabnya dengan gugup.

“Kamu tidak berbohong?” 

“Te ... tentu saja tidak.”

“Lantas kenapa kamu gugup?”

Saat itu juga, dengan cepat aku membalikkan tubuhku dan segera kabur. Tapi gerakannya lebih cepat daripada gerakanku. Ia mencekal tanganku. 

“Kamu bilang, kamu tidak berbohong, tapi jelas sikapmu menjunjukkan adanya kebohongan.”

Aku membalikkan tubuhku menjadi menghadap seseorang itu. 

“Ini Lion, kucing peliharaanku di rumah. Kakak siapa?” Aku mengangkat pandanganku dan menatap matanya. Aku melihat sorot mata yang tidak asing di pengelihatanku. Saat melihatnya, entah kenapa hatiku merasa tenang. Siapa ini? Siapa sebenarnya orang di hadapanku? 

“Nara ....” Aku terkejut mendengar apa yang baru saja ia katakan. Hatiku berdegup kencang. Pikiranku mulai berkeliaran ke mana-mana. Apakah mungkin .…

“Kak Raga?” Aku bertanya kepadanya dengan ragu.

Tanpa disangka tiba-tiba saja seseorang itu menarikku ke dalam pelukannya, ia memelukku dengan sangat erat. Aku terheran-heran dengan perlakuannya yang tiba-tiba. Namun aku merasa bahwa aku mengenalnya dengan baik.

“Nara, sudah lama tidak bertemu denganmu. Ini Raga, kakak yang paling menyayangimu.” 

Aku membulatkan mataku. Apakah ini mungkin? Apa aku tidak sedang bermimpi? Apa yang harus aku lakukan?

Aku melihat kembali wajah seseorang di hadapanku. Aku memastikan apakah itu benar-benar kakakku. Kali ini wajahnya terlihat jelas dan aku yakin itu memang kakakku. Aku segera  membalas pelukannya, tangisku pecah. Aku membasahi jaket yang ia kenakan. Ia menepuk-nepuk pundakku saat itu. Aku melepaskan pelukannya dan menatap wajahnya yang sudah tidak tertutupi topi. Aku terharu melihat wajah Kak Raga. Kembali menangis adalah yang aku lakukan selanjutnya. 

-----

Aku masih tidak bisa berhenti membayangkan hari itu. Kak Raga yang kini sudah kembali ke rumah selalu membuatku terharu. Kini, Lion juga memiliki teman baru. Aku sangat berterima kasih padanya. Karena Lion, aku bisa bertemu kembali dengan kakakku. Lion sang penyelamat untukku.

----

“Sejak kapan kamu menyukai kucing?” Kak Raga bertanya kepadaku sambil mengelus-elus Lion.

“Sejak Kak Raga pergi dari rumah. Aku tidak memiliki teman bermain di sini. Jadi aku memutuskan untuk mengadopsi Lion.” 

Kak Raga mengacak-acak rambutku dan tersenyum menatap diriku. 

“Maafkan Kak Raga. Kakak sangat putus asa saat itu. Kak Raga pergi tanpa berpikir panjang, maaf.” 

“Tidak masalah. Semua orang pasti pernah berpikir egois dan melakukan suatu hal tanpa memikirkannya. Asalkan kita tidak mengulangi hal tersebut, itu hal yang wajar. Yang terpenting, Kakak sudah kembali sekarang.”

-----

-THE END-




Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "KEHILANGAN YANG MEMBAWA KEBERUNTUNGAN"