Kehilangan

Oleh Lukman Amin

Aku coba beringsut dari lamunan. Benarkah telah sampai alur hidupku pada kelemahan dan keluguan seperti ini. Ada banyak pertanyaan yang sesungguhnya menggelayut dalam diriku. Lima bulan sudah tempat ini menjadi kenangan akan perjuangan menyambung hidup yang seakan-akan selalu ingin menerkam sisi-sisi hidupku. Lima bulan pula aku merasakan desakan yang semakin mengguncang tatkala ketiga teman sekamarku terantuk dalam kesusahan yang sama, bahkan lebih.

Hidup memang sebuah tragedi tatkala kita tak mampu memahamai alurnya yang semakin rumit dan tak dimengerti. Beruntung … aku berada pada komunitas yang selalu mendorong kebaikan, betapa pun perasaan kerendahan diri yang terlalu kadang datang dan mengganggu, tetapi semangat tetap bergelora. Hendak menantang masa depan agar bisa lebih dimengerti dan mengerti diri.  

 

“Jan, lagi apa. ngalamun wae?” tanya Jemi. 

“Eh … ini mah bukan ngalamun, cuman memaknai hidup,” jawabku singkat.

“Wah, sejak kapan kau memaknai hidup serius. Biasanya kamu jarang mikirin hidup. Biarlah mengalir seperti air, biar tak ada hentakan hidup yang menganggu. Kamu kan selalu bilang seperti itu?”

“Tapi kan hidup bisa berubah atuh. Dunia juga berubah tiap hari. Kalo kita gak berubah, berarti kita mengingkari siklus dunia yang selalu berubah. Pendirian hidup kadang berubah seiring dengan berubahnya diri,” jawabku pasti. 

“Perbedaan idealisme dan arah pemikiran kadang menjadikan obrolan di antara kita menjadi tidak nyambung.”

“Ah, susah ngomong sama kamu mah. Eh, Jan, ngomong-ngomong hari ini kamu punya uang, gak?” selidik Jemi.

“Uang? Buat apa?” ungkapku pendek saja.

“Ya, buat apa lagi, kalo bukan buat pengisi perut. Uang aku dah habis, kemarin dipake ongkos balikin barang ke Fatahillah.”

“Jadi mau pinjem, nih?”

“Ya … buat apa sekolah tinggi-tinggi jika lama paham ungkapanku,” kilah Jemi sambil tersenyum kecil.

Dengan satu gerakan saja, aku sudah mendapatkan dompet hitam Sopie Martin pemberian kakakku di samping tempatku rebahan. Rencananya aku akan meminjamkan uang … tapi tiba-tiba ….

“Jem, uangku ke mana? Kok, ga ada di dompet?”

Kemudian tanganku refleks merogoh kantong-kantong tas kumel export miliku. Namun hasilnya nihil. Uang sekitar 700 ribu rupiah raib tanpa jejak.

“Coba cari di kantong celana. Ketinggalan, kali?” saran Jemi.

“Ga mungkin, lah, aku nyimpan uang banyak di kantong celana. Aku selalu menyimpan uang di dompet. Di saku, paling saku siasain buat bensin dan keperluan ringan lainnya.”

“Tapi ga ada salahnya, kan, kamu coba?”

Akhirnya aku sweeping semua celana yang pernah aku pake dan tersimpan di rak-rak, menggantung di belakang pintu kamar. Hasilnya …? Tetap nihil.

Dalam kebingungan, tiba-tiba datang Arif dan Opik sambil mengucap salam khas ala Palembang-nya Arif.

“Assalamualaikum … pada ngapain, nih?”

“Waalaikumsalam. Pik, kemarin malam atau tadi pagi sampai siang, ada yang masuk gak ke kamar ini?” tanya Jemi. 

Nya, banyak, atuh. Ada aku, Arif, anak-anak pengajian. Emang ada apa? Perasaan tiap malam juga banyak yang masuk ke kamar ini, gak pernah nanya. Tapi … sekarang tumben nanya-nanya?”

“Uang Jana hilang dari dompet.” jawab Jemi tanpa jeda.

“Uang hilang? Kok, bisa?” Arif heran.

Hilangnya uang dari dompetku menjadi teka-teki yang belum terjawab. Agak susah untuk menilik siapa yang mencuri uang tersebut. Kamar di sebelah masjid yang aku dan tiga temanku tinggali memang sama sekali tidak memiliki privasi bagi penghuninya karena semua orang bisa keluar masuk tanpa harus izin terlebih dahulu. Ya, karena kamar ini adalah kamar yang disediakan untuk takmir Masjid Arahman. Sebuah masjid yang terletak di ujung kompleks elit di Bandung.

Aku tidak menyalahkan siapa pun atas kehilangan ini. Aku hanya mengevalusai diri. Mengapa begitu sering aku kehilangan sesuatu? Sejak aku kuliah di Bandung, aku telah kehilangan lebih dari tujuh sepatu. Selama kuliah pun aku menghabiskan sekitar 16 kaca mata. Ada yang hilang, keinjak anak-anak waktu salat, tertingal di BEM, dll. Kehilangan uang sebesar lima ribu, dua ribu, kayaknya sudah tak terhitung. Tapi kali ini, uang yang hilang sebesar 700 ribu. Cukup banyak untuk ukuran sarjana fresh graduate yang baru kerja di tempat bimbel dan asdos di kampus swasta di Bandung. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa ketiga teman sekamarku pun sedang tidak mamiliki uang. Sepeser pun. Benar, sepeser pun. Lalu hari ini kita makan pake apa? Hasbunallah Wa nikmal Wakil….

“Jadi, gimana, nih, cara mendapatkan malingnya?” Suara Opik memekakkan keheningan

“Ya udah, kita kumpulin aja orang-orang yang kira-kira kemarin datang ke kamar ini,” usul Arif dengan nada ringan.

“Atau gimana kalau ….”

“Atau …”

“Gini saja.”

Bla ... bla ... bla ….


Di tengah usul yang begitu banyak muncul, aku teringat sesuatu ….

“Oh, ya, aku ingat. Tadi siang sekitar satu jam sebelum salat Zuhur, Wahyu datang ke sini. Dan ….”

“Terus setelah itu?” potong Jemi. 

“Setelah itu … tiba-tiba aku dihentikan oleh pikiranku sendiri,”

“Eh, tapi apakah layak kita ber-husnuzdon kepada Wahyu?” Sambil mengernyitkan kening aku berucap.

“Kita bukan suuzdon, Jan, tapi mencoba menyelidiki maling. Bagi aku bukan uangnya yang hilang. Yang penting, sekalipun tanpa uang itu, kamu bisa kesusahan beberapa hari ke depan, he … he …. Tapi tempatnya yang sesungguhnya penting. Masa di masjid ada maling?” sergah Opik.

“Yee ... kalo maling mah gak tahu tempat atuh!” ucap Jemi sambil tersenyum.

“Eh … eh … kembali ke Wahyu.” Arif menimpali.

“Tunggu dulu. Selain anak pengajian, Wahyu, siapa lagi yang tadi masuk ke sini?”

   “Setahu aku, sih, cuma mereka yang pernah masuk ke tempat ini.”


Dalam obrolan yang terus mengalir membicarakan maling, tiba-tiba terdengar bunyi sendal sedang mengarah ke ruang di mana kami sedang bingung dengan semua yang terjadi.

“Ada Wahyu,” kata Arif dengan ekspresi kikuk setelah sedikit menyingkap tirai jendela warna biru yang sudah lama tidak tersentuh sabun.

“Harus gimana, nih?” tanya aku.

“Dah, beranikan ….”

Sebelum Opik menyelesaikan omongannya, Wahyu sudah ada di sekitar kami tanpa izin dulu. Langsung masuk ke kamar dan menyapa kami khas seorang anak remaja gaul kota sebesar Bandung yang kontras dengan ketimpangan.

Wahyu adalah mantan aktivis remaja Masjid Arahman yang pindah dua tahun yang lalu ke daerah Rancaekek, Bandung. Menurut Opik, ketika meninggalkan Arahman, Wahyu dan keluarganya meninggalkan komplek dengan kesan negatif setelah keluarganya dipermalukan oleh kakaknya yang mengambil uang dari tempat kerjanya. Tidak tanggung-tanggung, 40 juta rupiah. Uang itu dikembalikan oleh orang tuanya. Kalau tidak, rumah mereka jadi taruhannya. Cerita ini hampir diketahui oleh orang sekompleks. Minimal pembantunya yang kemungkinan besar menceritakannya kembali ke majikannya. Kenapa? Karena sebelum kepindahan mereka terjadi insiden baku hantam antara orang tua Wahyu dengan semacam Debt Collector dari perusahaan di mana kakaknya bekerja. 


“Asamualaikum …. Nuju naraon yeuh?

Beberapa saat kemudian suasana jadi tidak menentu. Ada kecurigaan yang tidak bisa ditutupi dari ketiga temanku.

“Wahyu!” Opik mencoba memulai.

Aya naon?”

“Kemarin, waktu kamu di sini, ada yang masuk lagi ke kamar ini? Atau melihat sesuatu yang mencurigakan gitu?”

“Maksud lo?” ucap Wahyu ala logat iklan di TV.

“Yang masuk sini mah banyak, tapi kalau yang mencurigakan? Naha asa siga dina sinetron wae mencurigakan?” jawab Wahyu sesaat kemudian menjawab tanpa beban.

Kami semua saling memandang, mengundang Wahyu untuk kembali berkomentar.

“Ada sesuatu yang terjadi?” tanya Wahyu.

“Iya, nih, uang Jana hilang entah ke mano.” Logat Palembang Arif kembali kentara.

“Uang hilang? Masa di masjid ada kehilangan? Keparat pisan tah jelema nu nyokotna. Teu nyaho tempat pisan,” cerocos Wahyu dengan ekspresi marah dipaksakan.

“Trus sekarang gimana?” Jemi bertanya ala orang bego. Maksudnya biar terlihat ekspresi Wahyu selanjutnya. Setidaknya ekspresi bisa memperlihatkan apakah Wahyu pelakunya atau bukan.

Lho, kok, kamu yang nanya? Harusnya aku yang nanya, kalian dah investigasi apa aja?” kata Wahyu.

“Kita baru mikir-mikir siapa aja yang pernah masuk ke kamar ini kemarin?” Opik menjelaskan.

“Tapi belum terjawab juga? Ya udah, kalo gitu, A Jana, gimana kalo kita ke orang pinter aja. Aku punya kenalan orang pintar di Rancaekek. Dia bisa lihat peristiswa yang pernah terjadi meskipun di tempat jauh?” usul Wahyu.

“Orang pinter? Eh, itu mah musyrik namanya. Jangan, ah!” Jemi menolak usul Wahyu.

“Atau kita lapor ke Pak RT.”

“Atau?”

“Jangan!”

“Gini aja ….”

Dari obrolan ini, kami berempat teryakinkan bahwa sebenarnya yang mencuri itu bukanlah Wahyu. Entahlah … hanya Allah yang tahu.


Obrolan demi obrolan mengalir dari aku dan keempat orang di masjid. Dari pagi sampai sekarang, beberapa saat sebelum Magrib akan tiba, obrolan kami tak pernah menemukan ujung sampai aku tersentak dengan kata-kata dari Opik.

“Aduh, ieu teh meni asa lapar. Lalapar teu?”

“Iya nih, mikirin maling jadi melupakan makan.” Jemi menimpali.

“Jug, beli atuh! Punya uang, gak?” Aku melirik sambil menepuk pundak Arif. 

Sesaat suasana hening ….

“Pasti gak punya uang?” terang Wahyu.

Kami saling memandang. Mencari ide mendapatkan makan malam.


Bagi ketiga temanku, tidak makan dalam waktu yang lama, dari pagi sampai sore, bukan merupakan persoalan. Pekerjaan mereka sebagai penjual keset-keset di tempat-tempat orang olahraga tidaklah menentu. Jadilah mereka ahli saum karena ketiadaan makanan. Seperti halnya Rasulullah saum sesudah bertanya kepada Aisyah, apakah ada makanan.

Sore itu, azan pun berkumandang disusul, tidak terlalu, lama azan Isya. Wahyu dan Arif kebagian azan.

Kami pun salat jemaah dengan sebagian warga kompleks. Berita kehilangan uang, kami sembunyikan dari warga, termasuk para guru madrasah. Kami khawatir masjid memiliki imej negatif di hadapan mereka. Bukan hal yang tidak mungkin, akhirnya mereka melarang anak-anak mereka berinteraksi di masjid jika mereka mengetahui masjid sebagai ajang maling memamerkan keahliannya. 

Di sela dua salat tersebut, seperti biasa, anak-anak maramaikan masjid dengan pengajian harian. Kagaduhan anak-anak sesaat telah melupakan kita semua dari … uang yang hilang dan lapar yang menusuk-nusuk di perut. Kachiaaan ….

Setelah salat Isya berlangsung, anak-anak pun pulang. Masjid kembali menampakan kemurungan, sepi, tak ada suara yang berarti. Keheningan kadang membuat manusia bisa menerawang, mengangkasa ke cakrawala masa yang tak tertebak.

Persoalan sekarang berubah. Dari uang yang hilang ke perut kami berlima yang sudah tidak mampu berkompromi. Seharian kami hanya mengisi perut dengan makanan ringan, sisa pengajian dua hari yang lalu ditambah dengan air. Mana bisa membuat kenyang?

Ada satu hal yang ironis. Saat itu kami berlima terdera lapar yang tak bisa ditawar, dan sesungguhnya, bagi ketiga teman aku yang tinggal di masjid kejadian seperti ini bukan asing lagi. Mereka sering merasa lapar karena ketiadaaan uang. Penghasilan mereka sama sekali tak menentu. Tetapi dalam tempat yang tidak terlalu jauh, bahkan sangat dekat, Masjid Arahman dikelilingi oleh rentetan rumah-rumah yang memberikan keterangan bahwa mereka bukan orang susah. Lebar dan tinggi rumah mereka mengisyaratkan sesuatu, kekayaan. Namun mereka tidak tahu-menahu. Di samping rumah mereka terdapat empat orang insan yang sering hanya menahan napas tatkala melihat keluar mobil BMW, Opel Blazer, atau Mercedez Benz. Paling jelek, Kijang kapsul, sambil menenteng makanan cepat saji ala Amerika atau Jepang. Subhanallah … sampai seperti inikah potret masyarakat kota mengimplementasikan kehidupan bermasyakarat.

Ah … memikirkan mereka sama saja dengan membiarkan kita larut dalam kecemburuan yang sangat.

Saat itu aku berpiki keras untuk bisa mendapatkan makanan. Dalam pikiranku, ketiga teman aku tidak mungkin untuk saat itu mendapatkan uang. Satu-satunya orang yang bisa ditanya tentang uang adalah Wahyu. Ya, Wahyu, mungkin bisa menyelamatkan perut ini dari rasa lapar yang sangat.

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengutarakan maksud aku ke Wahyu.

“Wahyu, kalo gak keberatan, aku mau pinjam uang. Punya, gak?” tanyaku agak berat.

“Uang? Punya, sih, tapi di rumah Uak kusimpan. Ntar aku ambil dulu. Berapa, A? tanyanya sambil senyum.

“Berapa aja, deh, yang penting bisa menghentikan rasa lapar di perut,” jawabku mantap.

Tatkala Wahyu mengambil uangnya dari rumah uaknya di belakang kompleks, aku kembali menerawang, berkontemplasi akan makna kehilangan dan kelaparan yang kami rasa. Sementara Jemi, Arif, dan Opik sedang membereskan bangku madrasah bekas anak-anak mengaji. 

Kehilangan kadang menjadi sebuah cambuk bahwa sesungguhnya hidup pun suatu hari pasti hilang dalam kehidupan kita. Ini adalah rahasia Allah menciptakan akhirat sebagai akhir kehidupan manusia. Sementara kelaparan bisa menjadi peluang menghisab diri akan rezeki yang telah diberikan Allah.

Di tengah-tengah tafakur, Wahyu kembali datang dengan senyum dan keyakinan bisa membantu orang lain.

“A, ini ada uang 20 ribu, ga usah dikembaliin. Itung-itung sedekah bagi yang sedang kesusahan, hehe ….” Wahyu tersenyum sambil mengulurkan tangannya menyerahkan uang. 

“Duh, syukron, ya, Wahyu. Maaf merepotkan. Harusnya tamu dihormat bukan malah diminta pinjam uang,” ucapku penuh rasa terima kasih.

Setelah mendapatkan uang tersebut, aku mengajak Arif untuk membeli makan untuk lima orang penghuni kamar Arahman. Seperti biasa, aku dan Arif melaju dengan Supra Fit milikku.

“Mbak, pesan nasi lima bungkus. Menu biasa, murah meriah, ya? Jangan lewat empat ribu,” pesan Arif ke mbak tukang warung tegal langganan kami.

Setelah beberapa saat berlalu, aku merogoh kantong celanaku untuk mengambil uang hasil pinjaman dari Wahyu. Uang yang tadi aku rasakan cukup bagus, masih keras. Itu tanda uang tersebut belum banyak berpindah tangan 

Namun sesaat kemudian aku tersentak dengan apa yang aku lihat. Dalam kebingungan, Aku meminta Arif untuk membatalkan pesanan nasi bungkus tersebut.

“Rif, gimana, ya. Duh, tolong batalin aja dulu pesen makanannya?”

“Kenapa? Uangnya gak ada? Hilang lagi?” tanya Arif keheranan.

“Pokoknya batalin aja dulu, nanti aku jelasin.”

Setelah Arif membatalkan pesenannya yang mengakibatlkan si mbak agak marah, maka aku melesat meninggalkan warteg tersebut dengan kertergesaan dan gemuruh di dada. 

“Allah telah memperlihatkan siapa pencuri uang aku.” Perkataan aku menyentakan Arif yang pada saat itu aku bonceng.

“Apa? Pencuri?”  tanya Arif.

“Aku bingung, nih,” lanjut dia.

Setelah sekitar lima menit memacu motor, aku kemudian berhenti dan memarkir motor di depan masjid.

Kemudian aku masuk ke kamar dan mendapatkan Jemi, Opik, dan Wahyu sedang mendengar acara senandung MQ dari radio MQ milik dai kondang, Aa Gym.

“Wah, datang juga, ni, makananya!” seru Wahyu kegirangan.

“Gak jadi belinyo,” jawab Arif. 

“Gak jadi? Lho, kok?” Suara Jemi dan Opik hampir berbarengan.

“Masalah makan gampang. Tapi aku memang teledor. Eh, ngomong-ngomong, Wahyu, aku pinjam aja lagi uangmu? Dua puluh ribu aja lagi?” Ketiga temanku agak heran dengan tingkah aku.

“Wah, aku gak punya lagi. Itu pun uang hasil aku kerja kemarin sama Bapak ngangkut barang. Kalo lima ribu, sih, ada,” jawab Wahyu agak ketakutan, “Emangnya kenapa?”

“Oh, jadi uang itu hasil kerja kamu dengan Bapak?” selidik aku.

“Iya, A. Aku nerima langsung dari Bapak setelah kemarin Bapak dengan aku ngangkut barang orang pindahan dari Rancaekek ke Garut. A Jana, tahu kan? bapakku sekarang kerjanya sopir angkutan barang. Nah, kemarin setelah aku pulang dari sini, aku ditelpon untuk pulang sama Bapak. Katanya ada orderan ngangkut barang ke Garut.”

“Kamu nerima uangnya di mana?” selidik aku lebih jauh.

“Eh, kenapa ini jadi nanya-nanya tentang uang? Apa ada yang salah dengan uangku. Aku nerimanya, ya, di Garut sesaat setelah Pak Rahmat yang pindahan ke Garut ngasih uang ke Bapak. Aku dikasih 30 ribu sama Bapak. Lima ribu udah aku beliin makan tadi pagi.” Wahyu menjawab panjang lebar.

 

“Wahyu!” tanya dan tatapku tajam menukik matanya.

“Kenapa harus mencuri uang aku?” 

“Mencuri?” Ekspresi Wahyu memerah.

“Eh ... eh … kok, jadi pencurian lagi yang dibahas? Makanan kumaha? Lapar yeuh? Lamun teu beli makanan, aku mau cari uang, ni?” Opik kesal dengan obrolan aku dan Wahyu.

Sesaat kemudian aku mengeluarkan uang yang tadi aku pinjam dari Wahyu. Sambil memperlihatkan uang tersebut ke semua temanku dan juga Wahyu, aku berucap, “Aku cukup punya bukti bahwa yang mencuri uang aku adalah Wahyu.”

Ketiga teman aku keheranan ….

“Lho, kok, aku jadi tertuduh. Aku udah bantu kalian beli makan? Ini malah menuduh aku yang enggak-enggak. Kalo A Jana menuduh aku mencuri, apa buktinya?”

“Wahyu! Kamu harus tahu! Sesaat setelah aku mendapatkan honor menulis dari penerbit dua hari yang lalu, aku meminta nomer telepon rumah Pak Budi sebagai editor buku aku dan tatkala aku nge-save nomor Pak Budi tersebut, hp aku low batt sampai mati. Akhirnya aku tulis nomor rumah Pak Budi di uang yang telah aku hitung sebelumnya dan masih tergeletak di meja kerja Pak Budi. Dan uang ini … (sambil mengacungkan uangnya … aku berucap agak tinggi) ada tulisan nomor Pak Budi! Kamu masih menyangkal?”

“Tapi kan bisa aja uang itu diambil dulu sama orang lain, kemudian aku mendapatkannya dari orang yang nyuri?” Wajah Wahyu memerah.

“Apakah Pak Rahmat yang tadi kamu sebut mungkin mencuri uang ini? Siapa Pak Rahmat, aku pun gak tahu. Udah, deh, kamu ngaku aja? Biar dosa dan perkaranya sebagian selesai di dunia. Gak kebawa ke akhirat.”

Akhirnya dengan terbata-bata ….

Kehilangan uang itu pun akhirnya terjawab sudah. Wahyu yang sempat meyakinkan kami bahwa dia gak mencuri, akhirnya mengaku. Astagfirullah … ketika aku tanya buat apa mencuri? Ia bilang setelah pindah ke Rancaekek ia kecanduan narkoba karena keluarga yang menelantarkannya membuat dia berontak dengan realitas. Ia mulai masuk komunitas gengster yang menawarkannya obat syaithan tersebut, sampai kecanduan.  Dan uang itu, akan ia pakai untuk membeli narkoba sekaligus membayar hutangnya akibat mengkonsumsi narkoba. Ya Allah, sudah separah inikah bangsaku? Remaja masjid saja bisa kena dengan narkoba.  

Aku tak kuasa menahan tangis. Bukan karena uang yang hilang, tapi karena rusaknya moral remaja bangsa. Wahyu bukan sendiri. Lebih dari dua juta orang hari ini, di Indoensia, merupakan pengguna narkoba. Mau dikemanakan bangsa ini? Kapan Islam bisa bangkit? Ya Allah … berikan pintu hikmah-Mu ….


Garut, 25 Maret 2006

Saat Pandangan Tak Mampu Menatap Jelas


Penulis adalah Kepala SMP Darul Hikam Kota Bandung

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kehilangan"

Post a Comment