Kencan Buta

 


Rina Indrawaty, SD BPI


  Perjodohan, sudah berkali-kali aku lakukan. Mulai dijodohkan orang tua, saudara, ataupun teman, semua kandas tak berbekas. Banyak alasan yang menyebabkan perjodohan tak sampai ke jenjang pernikahan. Dari mulai usia yang yang menjadi masalah, terlalu kekanak-kanakan, atau yang terlalu mengatur kehidupan. Usaha perjodohan pun akhirnya aku terima karena  aku sudah terlalu penat dengan omelan orang tua yang setiap tahun menghitung usiaku. “Bela…tahun ini usiamu 29 tahun loh.Bela kapan menikah? Usiamu sudah 31 tahun ini”. Sampai akhirnya tadi malam kedua orang tuaku memanggilku dengan serius,”Bela, tak baik terlalu menunda pernikahan, tahun ini usiamu sudah 35.” Bukannya aku tak sanggup mencari jodoh sendiri, tapi aku lebih senang tenggelam dalam kesibukan kerjaku yang selalu menantang. 

     Kencan buta, itu adalah ide terakhir  dari temanku, Resa yang kali ini tengah aku pertimbangkan.  Dia mengatakan bahwa kita tinggal cari pasangan di situs tertentu, minta nomor telepon, dan janjian untuk bertemu. 

     Siang ini aku sudah mengatakan kepada Resa bahwa aku akan melakukan kencan buta. Kepenasaran Resa tentang kencan butaku, membuatnya rela menungguiku di kantor sampai aku dijemput. 

“Kamu sudah buat janji dengannya?” Tanyanya. Akupun mengaggukan kepala dan mengatakan bahwa dia sekarang sedang menuju ke kantor. 

“Dia hari ini akan menggunakan baju apa?” Tanya Resa penasaran.

“Hijau,” kataku sambal menunjuk ke arah orang yang mengendarai motor berbaju hijau.  Akupun cepat-cepat pergi meninggalkan Resa, karena kudengar  teriakan kesalnya,“Bela…itu itu bukan kencan buta! Kamu memang janjian sama tukang gojek yang akan menjemputmu pulang!”

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kencan Buta"

Post a Comment