KUCING BUAT DEDE

 

Mona Affrias,  S. E. 


Betapa berharga waktu yang kita habiskan bersama anak-anak kita. Jika kita ingin menjadi seorang dokter, maka kita bisa sekolah kedokteran. Jika kita ingin menjadi seorang guru, maka kita bisa sekolah keguruan. Bagaimana jika kita ingin menjadi orang tua? Sayangnya, tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua. Walaupun ada beberapa pakar parenting yang membuat sekolah orang tua, sayangnya tak setenar lulusan universitas.

Kita, para orang tua benar-benar membutuhkan sekolah orang tua, khususnya aku. Tenaga, waktu, pikiran, kita curahkan ke pekerjaan, dengan alasan untuk menghidupi anak-anak kita, tapi sepertinya itu hanya alasan kita, agar waktu yang kita habiskan jadi bermakna. Tapi apakah itu yang dibutuhkan anak-anak? Uang yang banyak, apakah bisa memuaskan keinginan mereka? Waktu yang kita sediakan, apakah sudah cukup berkualitas saat bersama mereka? Segala pemikiran dan nasihat, benarkah untuk kebaikan mereka? Takutnya dengan tameng anak-anak, akhirnya keegoisan kitalah yang berbicara. Takutnya, kita belikan anak kita barang-barang, agar terlihat pantas dimata orang lain. Takutnya, waktu yang ada untuk dihabiskan bersama anak-anak, malah kita habiskan dengan bergelut di media sosial.  Takutnya, nasihat-nasihat dari pemikiran kita adalah segala hal yang menurut kita cocok dengan pemikiran kita, bukan yang terbaik buat mereka.

Hari itu, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Saat itu anakku, sebut saja dede, minta dibelikan seekor kucing yang harganya lumayan mahal. Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya di awal bulan, saat mendapat gaji bulanan, sesuai janjiku kepada dede, segera kubelikan apa yang dia mau. Saat itu, kebetulan suami pergi ke kota. Pada saat perjalanan pulang, rupanya dia ingat percakapanku dengan dede. Melalui video call,aku dan suamiku memilih kucing untuk anak semata wayang kita. Menurut kami, kucing yang kami pilih sudah yang terbaik. Saat suami datang dari kota, sambil membawa kucing yang dibeli, dan memamerkannya pada dede, ternyata dia tidak terlalu antusias, tetapi tidak juga ada tanda-tanda dia tidak suka.

“Bagus, Bu. Terima kasih,” ucapnya datar. Saat itu, aku hanya berpikir, dia terkadang memang begitu, tidak terlalu manunjukan emosinya.

Keesokan harinya, karena memang belum ada kandang buat kucing dan kebetulan pamannya sedang datang berkunjung, aku minta tolong dibuatkan kandang untuk kucing baru dede.

“Om! Tolong buatkan kandang untuk kucingnya Dede! Ini untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan!” Perintahku sambil memberikan uang dua ratus ribu rupiah kepada adikku. “Tenang..., nanti aku tambahin buat jasanya,”  candaku. Kebetulan saat itu dede juga ada diantara kita.

Dari pagi sampai sore hari, sang paman berkutat membuat kandang kucing, ditemani dengan setia dan penuh semangat oleh dede. Sekarang dia terlihat lebih sumringah, dibandingkan saat pertama kali melihat si kucing yang dibawa ayahnya.

“Lihat, Bu! Kandangnya bagus sekali ya?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah kandang yang sedang ditambah dekorasi. Adikku meminta dede untuk membatu meberikan lem dan menempelkan beberapa ornamen di kandang itu. Raut muka dede terlihat lebih berseri, saat pamannya memasukkan kucing ke dalam kandang yang baru saja dibuatnya. Sampai malam hari, dia terus memandangi kandang buatan pamannya, sampai datang waktu tidur. Itupun harus dipanggil dan diingatkan berkali-kali, bahwa sudah masuk waktu tidur, baru dia mau beranjak dari depan kandang kucingnya.

Di hari Minggu, beberapa teman dede bermain ke rumah. Dengan bangga dan berseri-seri, dede menunjukan kucingnya. Mereka bermain dari jam tiga sore sampai hampir maghrib. Setelah teman-temannya pulang, dede menghampiriku. 

“Bu! Kenapa Ibu beli kucingnya warna putih?” 

“Memangnya kenapa?”

“Bagusan belang coklat deh, Bu,“ rajuknya.

Mendengar kalimat itu, tiba-tiba aku merasa begitu kesal. 

“Lho, bukannya kemarin kamu bilang suka?”

“Suka sih…, tapi boleh tidak, nanti beli lagi yang warnanya belang coklat?” Tawar dede.

“Sudah! Kalau kamu tidak suka, mending kucingnya Ibu jual lagi saja!” Suaraku tiba-tiba meninggi. Aku merasa tidak menerima protesnya, karena aku merasa sudah mengorbankan waktu, tenaga dan uang untuk membeli kucing tersebut. Aku sampaikan kekecewaanku kepada dede dengan begitu emosi, mengoceh kemana-mana, sampai kulihat dede mulai terisak. Akhirnya, diapun mulai menangis tersedu.

“Jangan, Bu. Om sudah susah-susah bikin kandangnya,” suaranya tertahan karena menahan tangis. Mendengar itu, aku tertegun kaku, diam sejenak, dan masih kudengar isak tangisnya.

“Sudah, cukup! Sana mandi! Sudah mau maghrib!” Kututup perdebatan itu, sambil membalikkan badan membelakanginya. Dia melangkah lemas ke kamar mandi sambil sesenggukan. 

Saat anakku mandi, aku tak berhenti berpikir, bukan lagi masalah kucing, aku mendapatkan pelajaran lain yang lebih penting. Bekerja satu bulan full, dapat gaji untuk membeli kucing, waktu, tenaga dan uang yang kukeluarkan, dimata anakku tidak lebih berharga daripada waktu satu hari yang dihabiskannya dengan sang paman saat membuat kandang kucing. Apa yang sudah kuperbuat terhadap anakku? Sudahkah kusisihkan waktu bersamanya? Berbicang, bercanda, melakukan kegiatan bersama?

Saat dede keluar dari kamar mandi, aku langsung memeluknya, sambil berbisik, “Ibu sayang Dede. Maafkan Ibu ya.” Aku tak tahu harus berkata apa lagi untuk mengungkapkan penyesalanku akan apa yang telah kulakukan. Sebenarnya, banyak yang ingin kukatakan, tapi entah mengapa bibir ini tak sanggup berucap. Aku lebih memilih diam, daripada salah berucap yang bisa melukai hatinya. Saat ini, aku hanya ingin menyampaikan, betapa besar rasa sayangku padanya.

“Maafkan Ibu, De.”


Tentang Penulis

Mona Affrias, S.E., atau biasa dipanggil Mona, lahir di Patrol Kabupaten Indramayu. Mengawali karir mengajar di sebuah Taman Kanak-kanak di Cikarang. Kemudian, selama 6 tahun berkecimpung di dunia Taman Kanak-kanak di Patrol. Mulai tahun 2018, belajar menjadi Kepala Sekolah di SD Global Mandiri Patrol sampai dengan sekarang.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "KUCING BUAT DEDE"

Post a Comment