Mas Sono


Oleh:Tri Indartiningrum, S.Pd.


Udara panas  hari ini terasa menyengat. Kupercepat laju motorku agar cepat sampai ke rumah. Beberapa kendaraan di depanku kusalip. Lampu lalu lintas di simpang lima bunderan mangga  menyala merah. Ciiiiit ... kurem motorku, hingga berhenti.


Sambil menunggu lampu kembali menyala hijau, kuambil uang recehan di box. Bismillahirrohmanirrohim dalam hati  aku niat sodakoh untuk kaum duafa. Bluuk, kujatuhkan uangku di kardus. Pemuda pembawa kardus itu mengangguk sambil tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku jawab dengan anggukan kepala saja.


Lampu menyala hijau. Semua kendaraan yang berhenti, melaju kembali. Kubelokkan motorku ke arah kanan menuju jalan Gatsu. Sepuluh menit saja aku sudah sampai di rumah. Alhamdulillah, Allah sudah melindungi  perjalananku. 


Kubuka pintu dan kuucapkan salam walaupun tak ada orang di dalam rumah. 

Hari-hariku di rumah terasa sepi. Dua anak gadisku masih menuntut ilmu di Purwokerto dan di Bandung. Ayahnya anak-anak, kebetulan masuk kerja sif pagi. Dia kerja delapan sampai dua belas jam. Cukup cape, bila dibandingkan dengan kerjaku sebagai PNS yang hanya lima jam saja. 


Kuletakkan semua bawaanku di ruang kerja. Kuganti pakaianku dengan daster kesayangan. Cees ..., adem rasanya. Bebas bergerak. Bergegas aku ke kamar mandi. 


Suara air mengucur dari kran terdengar nyaring di telingaku. Terasa ada kesejukan. Aku mengambil air wudlu, lalu kutunaikan segera sholat dhuhur yang sudah sedikit terlambat.


Selesai salam, kudengar HPku  berdering. Kuhampiri, dan kulirik ternyata Mbak Titin.

Kuangkat dan kudekatkan agar menempel ke telingaku. "Haloo...apa kabar, Dik?" terdengar suara dari seberang sana."Alhamdulillah ... ,baik mbak" Aku dan Mas Har sehat", kataku menjawab pertanyaan Mbak Titin. Suara yang semula kudengar jelas, perlahan melemah."Haloo..Mbak, kenapa menangis?"

Aku mendengar suara tangis yang tertahan. Beberapa detik aku menunggu. Tiba-tiba aku jadi ikut cemas. Apa yang terjadi yah … hatiku bertanya-tanya.

"Dik ...,maafkan Masmu ya..!" kata Mbak Titin.

"Baru saja Mas Sono meninggal, di Rumah Sakit tempat ia dirawat."

"Covid telah merenggutnya, Dik".  kudengar suaranya tersedu. 

"Apa Mbak ...? "aku terperangah. "Innalillahi wainna illaihi rojiun ... ,semoga Mas husnul khotimah"."Kami ikut berduka cita, Mbak" kataku. 


Kuletakkan HP di meja dekat akuarium. Air mataku terasa deras di pipi, tak lagi mampu kutahan. Terharu, sedih, dan merasa kehilangan, campur aduk di hatiku. Mengingat dalam situasi dan kondisi pandemi covid-19, kami hanya bisa mendoakan. Tidak bisa melayat, apalagi mengantar sampai di peristirahatan yang terakhir. Selamat jalan Mas Sono, Allah sayang kepadamu  hingga engkau dipanggil pulang.


Ya Allah sampai kapan wabah ini melanda ... dan merenggut orang-orang yang kami sayangi. Semoga peristiwa yang menimpa Masku, bisa menjadi pelajaran berharga, bagi kami dan masyarakat sekitar. Jangan abai dan meninggalkan protokol kesehatan. Himbauan pemerintah yang sudah gencar disampaikan kepada warga masyarakat, masih saja  disepelekan. Ternyata covid itu nyata dan ada di mana-mana. Mencegah lebih baik dari pada mengobati bukan?




Tentang Penulis

Nama lengkapnya, Tri Indartiningrum, S.Pd. Biasa dipanggil Bu Tri. Lahir di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah, 15 Desember 1964. Masa kecil hingga dewasa, dia lalui di Desa Adipala Kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Menjadi guru dari tahun 1984 dan hijrah ke kota Indramayu tahun 1999. 

Menikah dan dikaruniai dua gadis. Saat ini bekerja sebagai Kepala Sekolah di UPTD SDN 2 Teluk Agung Kecamatan Indramayu.

Filisofi hidup "Urip iku Urup" (Hidup itu menyala, bermakna bahwa kita harus  membawa manfaat bagi orang dan mahluk di sekitarnya). Salam literasi.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mas Sono"

Post a Comment