Mutiara Rimba

 

Uhe Suhaeti, S.Pd.


    “Ma ...! Ma ...! Mama kemana ya? Ma ...! Ma ...!” Tiara mulai kesal, karena tidak seperti biasanya ketika dipanggil, mama lama menyahut. “Ma ...! Ma ...! Mama ...! Duh ya, mama kemana sih? Mama kan paling gesit, dengan satu kali panggilan saja pasti sudah berada didekatku.  “Mama ...! Dimana ya?”  Tiara beranjak dari kamarnya, sambil mengucek-ngucek mata sembabnya, karena semalam telah berdebat dengan mamanya. Tiara berjalan menuju pintu kamar, dia buka pintu, lalu menuju kamar mamanya. Saat di depan pintu kamar, Tiara mengetuk pintu sambil memanggil mamanya, “Ma …! Mama …!” Tetap tidak terdengar sahutan mamanya. Tiara  mulai panik, semua ruangan dari mulai dapur, musala, ruang tamu dan taman belakangpun dia datangi, tapi tetap sosok cantik dan lembut mamanya tidak dia temui.

Di luar terdengar suara bel pintu, “ting-tong, ting-tong,” 

“Ah, itu pasti mama,” setengah berlari Tiara menuju pintu depan, tapi apa yang didapatkan, ternyata mang Amran, 

“Tiara! Mamang hanya mau mengabari, bahwa mama tadi malam dibawa ke rumah sakit. Semalam ditemukan pingsan di ruang tengah. Nenek yang memberitahu mamang, kemudian mamang segera mengeluarkan mobil dan membawa mama ke IGD karena kondisinya yang kritis.” 

Mendengar kabar dari pamannya, air mata  Tiara tidak terbendung lagi, tangispun pecah. “Mama ...! Maafkan Tiara, Ma!” 

Waktu menujukkan pukul 06.15. “Ayo Tiara, kamu harus berangkat sekolah! Hari ini kamu UN kan? Biar nenek dan bibi kamu yang menjaga mama. Ayo, Mamang antar, nanti kamu terlambat.”

Sepanjang perjalanan dari rumah menuju sekolah, tak henti-hentinya air mata membasahi pipi merah gadis cantik itu. 

“Tiara, semalam kamu di mana? Sampai mama sakit, kamu tidak tahu,” ucap mang Amran. Dengan terbata-bata, Tiara mengungkapkan kejadian malam itu. 

“Semalam Tiara berselisih paham, Mang. Sepertinya mama sangat marah, biar ga dengar mama marah, Tiara tiduran sambil memakai head set.” 

“O …, pantesan ketika mamang ke rumah, kamu tidak kelihatan, mamang kira kamu nginep di rumah nenek. Sudah sampai, nanti Mamang jemput ya, sekalian berangkat nengok mama.” Setelah mencium tangan pamannya, Tiara langsung berjalan menuju ruang kelas, terlihat wajahnya yang lesu, karena pikiranya sudah di rumah sakit.

Ujian pertama dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia, Tiara menyelesaikan UN walau dengan perasaan yang begitu sedih. “Tit ...! Tit ...!” Suara klakson mobil dan lambaian tangan mang Amran dari dalam mobil memanggil Tiara yang sedang duduk menunggu di depan gerbang sekolah. Setengah berlari, Tiara menuju mobil putih yang sudah berada di seberang jalan. 

“Ayo, Tiara! Kamu harus cepat pulang ke rumah, beres-beres dan pergi nengok mama!” Tanpa banyak berpikir, Tiara langsung masuk ke dalam mobil. Sesampainya di rumah, dia langsung berganti baju, mengambil buku pelajaran untuk besok dan gawainya, kemudian langsung menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Tiara langsung menuju kamar tempat mamanya dirawat, lumayan jauh perjalanan dari pintu depan menuju ruangan mama. Konsentrasi Tiara buyar ketika melihat nenek dan bibi mengiringi mama yang terbaring di atas brankar sambil didorong perawat. Setengah berlari, Tiara mengejar mama menuju ruang operasi, 

“Mama ...! Ada apa dengan mama?” Tiara tak habis pikir melihat mamanya terbaring tak berdaya, padahal kemarin mama masih sehat, segar dan cantik.

Dua jam menunggu di dekat ruang operasi, akhirnya mama keluar dengan setengah sadar. Tiara langsung memeluk mamanya, kemudian ikut mendorong menuju ruangan VIP 3 Bogenvil, di mana mama di rawat sejak malam tadi. 

“Bu, Pak, mohon maaf, ibu Hesty kondisinya masih belum stabil, jadi tolong jangan diajak berbicara dulu,” begitu saran perawat sebelum meninggalkan kamar. 

Sambil menunggu mama pulih, Tiara terlihat bingung. Sebenarnya dia bermaksud menguhubungi mang Amran, tapi ternyata gawainya tidak ada di dalam tas. 

“Aduh! HP-ku mana ya?” Tiara keluar bermaksud mencari gawainya yang entah kemana, sambil mencari mang Amran, karena harus menebus obat ke apotik. Di kamar rawat ada nenek dan bibi menunggu mama.

Saat Tiara kebingungan mencari gawai sambil berjalan ke tempat operasi, tiba-tiba ada sosok tinggi berbaju putih sambil menyodorkan sebuah gawai.

 “Neng, ini HP-nya. Tadi ketinggalan di ruang tunggu pasien operasi.” Tiara terkejut bercampur senang.

 “Terima kasih,” jawabnya singkat, sambil menerima gawainya. 

“Sama-sama,” jawab sosok tinggi berbaju putih yang langsung berlalu dan menghilang entah kemana, Tiara langsung menelepon mang Amran untuk membelikan obat buat mama.

Hari ini adalah hari terakhir Tiara mengikuti UN, ada sedikit perbedaan yang terpancar dari wajahnya. Hari ini, dia terlihat lebih ceria, karena rencananya mama akan pulang dan sudah dinyatakan pulih, 

“Tiara! Bagaimana kabar mama? Maaf ya, aku belum bisa menjenguk, karena kita baru saja selesai ujian,” ucap Karina sahabatnya. 

“Tidak apa-apa, Karina. Terima kasih, kamu memang sahabat terbaiku,” jawab Tiara sambil memegang tangan Karina. 

“Nanti jam 5 sore aku  ke rumahmu ya. Kita bersama-sama menjenguk mama kamu, sekalian aku juga mau menjenguk nenek. Nenekku diopname disana juga. Semalam dibawa ke rumah sakit, karena diabetnya kambuh. 

Tepat jam 5 sore, Karina sudah berada di depan rumah Tiara. Tak berapa lama, mereka berangkat menuju rumah sakit. 

“Tiara, kenalkan ini sepupuku namanya mas Iba. Ganteng kan? Dia mahasiswa kedokteran semester 2, keren kan? Ikatan Dinas pula. Setelah lulus nanti, mas Iba langsung kontrak jadi dokter dan ditempatkan di rumah sakit yang ada di Jawa Barat.” Begitu celoteh Karina saat di dalam mobil. Tiara sedikit terkejut saat menatap sosok laki-laki yang dikenalkan Karina. Sosok inilah yang memberikan gawainya ketika mamanya selesai dioperasi. 

“Ah kamu, Rina. Jangan berlebihan. Biasa saja.” Jawab mas Iba dengan senyum manisnya.

“Om, parkirnya di sini saja, dekat apotik, supaya dekat menuju VIP Bougenvil,” ucap Karina saat mereka sampai di parkiran rumah sakit. 

“Emang nenekmu  di ruang apa Rin?” Tanya Tiara.

“Nenekku di Bougenvil 4,” jawab Karina sambil membuka pintu mobil.

“O …, kebetulan dong, dekat dengan kamar mama. Mama di Bougenville 3,” sahut Tiara.

Sore itu, Tiara sudah berada didekat mamanya yang sudah terlihat segar. 

“Tiara, Mama masih harus menunggu sampai besok, karena hasil laboratoriumnya belum lengkap, masih ada satu lagi yang belum keluar.” Kata mama sambil memegang tangan putrinya yang duduk di sampingnya. 

“Tok-tok-tok.” Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk dari luar. 

“Masuk!” Seru Tiara, tanpa beranjak dari tempatnya. “Eh, Karina, sini masuk!” Lanjut Tiara saat melihat sahabatnya membuka pintu. 

“Mah, maafin Karina ya, baru bisa besuk, karena UN baru selesai. Mama sepertinya udah sehat, karena udah terlihat cantik lagi,” canda Karina saat berada di samping tempat tidur mama. Karina memang sudah akrab dengan mama. 

“Kamu kesini dengan siapa, sayang?” Tanya mama sambil melihat dua pria disamping Karina. 

“Dengan om dan mas Iba, Mah. Kenalin, ini om Darsono,” lanjut Karina sambil menunjuk sosok pria yang tepat berdiri di sampingnya. Om Darsono pun tersenyum dan mengangguk sambil menatap mama.

“Hesty,” jawab mama sambil tersenyum dan menatap om Darsono. Cukup lama mereka  bertatapan, sepertinya mama mengenal om Darsono. 

“Siapa ya?” Tanya mama dengan raut muka penasaran.

”Ma! Om Darsono ini pindahan dari Kalimantan. Sekarang bertugas di Jakarta, dan sementara tinggal bersama nenek. Dan ini, anaknya om Darsono, namanya Mas Iba, dia kuliah di Bandung, tapi setiap hari libur mas Iba pulang ke rumah nenek.” Lanjut Karina sambil sedikit menarik tangan mas Iba dan bergeser sedikit ke belakang agar mama dapat melihat mas Iba dengan jelas. 

“Terima kasih, Pak! Terima kasih, Nak Iba, ” ucap mama sambil tersenyum. 

Sore itu, obrolan semakin hangat, mama sudah terlihat ceria lagi. Sebenarnya, mama masih berpikir mengingat sosok Om Darsono. Dari segi nama, memang tidak asing. “Apakah dia Darsono anak fakultas kehutanan, kakak tingkatku atau bukan ya? Kalau dari gaya bicara dan raut wajahnya sih, mirip sekali. Ah ... sepertinya bukan.” Mama membatin sambil tersenyum sendiri.

Darsono yang dalam pikiran mama adalah sosok yang dulu pernah mengisi hatinya. Di mata mama, Darsono sosok yang sangat baik, bahkan saat mama masih kuliah semester 2, Darono sempat mengajaknya ke jenjang pernikahan. Karena mama bertekad untuk menyelesaikan kuliahnya terlebih dulu, mama pun menolaknya dengan halus. Dari sanalah komunikasi mulai terputus. Darsono yang saat itu telah lulus,  mendapat pekerjaan di pedalaman Kalimantan. Sedangkan mama masih kuliah. Tiga tahun kemudian, mama lulus kuliah dengan predikat cumlaude. Karena saat itu kedua orang tua mama selalu sakit-sakitan, mereka pun berharap agar mama secepatnya menikah. Sebagai anak yang berbakti, mama pun menikah dengan lelaki pilihan kedua orang tuanya. Mama dikaruniai seorang putri, yang diberi nama, Mutiara Ramadhan dengan panggilan sayangnya, tiara. Saat Tiara berusia 2 tahun, suami mama meninggal, karena penyakit kanker hati. Sejak itulah mama menjadi sosok ibu sekaligus ayah bagi putri semata wayangnya.

Banyak yang berubah pada diri Tiara, semakin hari, semakin tidak sejalan dengan keinginan mamanya, sampai suatu hari emosi mama tak terkendali yang membuat mama terdampar di rumah sakit, karena syaraf otaknya terganggu, sampai akhirnya harus menjalani operasi.

“Ma! Tiara salat dulu ya, ini udah jam 9 malam.” Mama terkejut, karena baru tersadar dari lamunannya. 

Dengan sedikit gugup, mamapun menjawab, “Iya, Sayang.” 

Tiba-tiba suara khas gawai mama bordering, “Kring ..., kring ..., kring….“

“Assalamualaikum, ini dengan siapa?” Jawab mama setelah menekan tombol gawainya. Kebetulan yang nampak di layar gawai mama hanya nomor saja.

“Ini dengan ibu Hesty?” Tanya seseorang dari suara gawai. 

“Iya, saya sendiri.” Jawab mama yang sempat tertegun dan dengan perasaan yang tidak seperti biasanya. 

“Ma, telepon dari siapa? Malam-malam ko nelpon,” kata Tiara dengan raut muka judesnya. 

“Hus! Kamu tidak boleh begitu,” kata mama sedikit membentak. 

“Hesty, masih ingat aku?”

“Siapa?” 

“Aku Darsono.” 

Mendengar kata Darsono, mama terlihat kaget, dunia seakan serasa berhenti. Dalam benaknya terlintas pertanyaan, “apakah ini mimpi?” 

“Hesty, maafkan aku, bukan aku tidak sopan meneleponmu  malam-malam, tapi aku hanya ingin meyakinkan saja, bahwa itu memang kamu.” Suara telepon seolah semakin mendekat, sampai akhirnya sosok itu berdiri di depan mama. 

“Maafkan, Rina, Mah. Tadi Om Darsono terus mananyakan mama dan minta nomor hp mama. Ternyata mama sama om, sudah saling kenal.” 

Keesokan harinya, hasil laboratorium mama sudah ada, ternyata hasilnya sangat baik dan mama diijinkan pulang. Tiara sangat bahagia, karena bisa berkumpul lagi bersama mama di rumah, dan tentunya dengan senyum dan keceriaan mama. 

Hari-hari berlalu, sampai saat kelulusanpun tiba. Tiara dinyatakan lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Tiara mendaftarkan kuliah melalui jalur SNPTN. Karena nilainya yang sangat bagus, Tiara memberanikan diri mendaftar di fakultas kedokteran, sesuai dengan cita-citanya. 

“Ma ...!” Tiara berteriak sambil berlari menghampiri mamanya. “Tiara lulus, Ma.” Lanjutnya saat sampai di depan mamanya. Tiara diterima di fakultas kedokteran lewat jalur prestasi. Seketika, mama memeluk putri semata wayangnya itu. Tak terasa air mata menetes di pipinya yang putih. Ya, dengan perasaan bangga dan bahagia, karena mama berhasil menghantarkan Tiara walau sebagai single parent.

Untuk merayakan kebahagian tersebut mama mengadakan syukuran dengan mengundang tetangga dekat, termasuk om Darsono, mas Iba, Karina dan kerabat yang lainnya. 

“Papanya Iba, jangan lupa ajak mamanya Iba juga ya!” Kata mama saat om Darsono, mas Iba dan Karina main ke rumah. Mendengar ucapan mama, terlihat mata mas Iba berkaca kaca. 

“Ma ..., mama Iba udah ga ada,” kata Iba sambil menundukkan kepala. Mama Iba menghadap Sang Pencipta, ketika Iba berusia 6 tahun, Dia mengalami kecelakaan saat mengantar Iba ke sekolah. Saat itu Iba masih sekolah TK. Setelah mamanya meninggal, Iba diasuh oleh neneknya, di kampung mamanya. Menjelang SMP, nenek juga pergi meninggalkan Iba. Kemudian, Iba melanjutkan sekolah di pondok pesantren hingga lulus SMA. Sampai akhirnya, Iba kuliah kedokteran di Bandung.

“Ma, Iba mau, Mama jadi mamanya Iba,” tiba-tiba, Iba mengucapkan kalimat yang membuat semua orang tertegun, apalagi mama dan om Darsono, mereka tidak menyangka anaknya akan mengatakan kalimat itu. 

“Ma, Tiara juga kangen sosok papa,” tiba-tiba, Tiara mengucapkan kalimat yang tidak kalah mengagetkannya. Mama dan om darsono hanya bisa saling memandang, tanpa ada yang tahu, apa yang harus diucapkan. 

Sebulan berlalu, Tiara sudah menjadi mahasiswi kedokteran dan satu kampus dengan Iba, 

“Ma, Allah memang baik ya, Ma? Sekian waktu Tiara menemani mama, sebenarnya Tiara sangat khawatir untuk pergi meninggalkan mama sendirian di rumah. Tapi sekarang Tiara bahagia, karena mama sudah tidak sendirian lagi, ada Papa yang menemani,” ucap Tiara saat duduk berdua dengan mamanya di teras rumah.

Iba, sekarang sudah menjadi kakaknya Tiara. Nama aslinya Rimba Perdana, karena sayangnya, mama memanggilnya Iba. Sekarang mama sudah menemukan cinta sejatinya, setelah 15 tahun menyendiri, akhirnya mama bertemu dengan papa. Begitupun dengan papa Rimba. Kini mereka hidup bahagia.


Tentang penulis

Uhe Suhaeti, S.Pd

Lahir di Indramayu, 07 Oktober 1980, Pendidikan terakhir S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah (Dikbasasinda) STKIP Sebelas April Sumedang, Mengajar Bahasa Indonesia di SMP Negeri 4 Terisi dari mulai tahun 2004 sampai dengan sekarang. 

No wA 085224803389

Email: uhesuhaeti@gmail.com           


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Mutiara Rimba"