PEJUANG ABSEN DARING DARI GARUT SELATAN


Oleh: Lina Herlina

    Sejak munculnya wabah covid 19 terjadi perubahan kebiasaan di semua kalangan. Termasuk pada diri Ibu Suartini. Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti ini, kini memiliki tugas yang teramat berat baginya. Bukan masalah harus memberikan pembelajaran luring kepada beberapa siswanya yang dibagi sesuai standar covid, karena untuk melakukannya secara daring di sekolahnya, SMP Plus Hidayatul Muttaqin yang berjarak kurang lebih 1 km dari rumahnya sangatlah tidak mungkin. Tetapi ia harus melakukan kewajiban mengisi absen daring dari Kemenag setiap pagi mulai pukul 07.00 sampai dengan 07.30 WIB dan sore mulai pukul 15.00 sampai dengan 16.30 WIB.

    Tentunya kewajiban ini membuat Ibu Tini demikian panggilan akrabnya sangat kewalahan untuk mencari tempat yang memiliki sinyal kuat untuk jaringan internet androidnya. Sementara bila tidak melakukannya, ada kekhawatiran pada guru yang sudah 7 tahun menjadi tenaga honorer dan belum lama mendapat tunjangan sertifikasi ini tidak dapat dicairkan. 



Ibu Suartini sedang menunggu absen

Untuk mengisi absen, guru yang berdomisili di Kp. Ciawitali Desa Gunung Jampang Kecamatan Bungbulang Kabupaten Garut ini harus berjalan kaki sejauh 2,5 km menuju gunung yang di sebut Pasir Pines. Supaya tidak terlambat, karena bila lewat dari pukul 07.30 absen sudah tidak dapat dibuka, maka ia harus sudah berjalan kaki dari pukul 06.00. Belum lagi bila cuaca hujan, maka jalanan licin, gelap dengan kabut dan baju basah meski sudah menggunakan payung. Ibu yang berusia 47 tahun ini, selalu melakukannya sendirian.

Tempo hari, ia dikejutkan satu sosok tak kasat mata yang menurut masyarakat sekitar disebut Aul . Pada saat akan mengisi absen sore cuaca sedikit kurang mendukung. Saat itu hujan terus mengguyur dari siang hari. Untuk melangkah pun serasa berat bagi Bu Tini. Tapi kewajiban yang memanggil mendorongnya untuk terus melangkah menapaki bukit terjal yang di kanan kiri dipenuhi hutan pinus. Sesampainya di lokasi kurang lebih sejauh 15 meter terlihat olehnya ada seorang berperawakan bocah usia 10 tahun sedang berada di atas sebuah batu. Ia berpikir, alhamdulillah ada teman pencari sinyal juga. Ketika diperhatikan, ternyata makhluk itu tidak berbaju dengan bulu disekujur tubuhnya, mulutnya agak maju (cameuh: Sunda). Rambutnya gimbal dan agak pirang, kepalanya terbalik menghadap ke belakang. Akhirnya karena panik Bu Tini tak lagi ingat akan absensi, ia melarikan diri sekencang-kencangnya, hingga tak memperhatikan lagi banyak bebatuan di jalanan dan akar-akar kayu yang melintang memenuhi jalanan setapak. Ia berlari dengan beberapa kali terjatuh karena kakinya tersandung batu dan akar-akar kayu. Akhirnya bukan absensi yang diperoleh, tetapi luka pada kaki dan paha akibat terjatuh dan terkena batu. Ia sekarang terbaring di Pustu terdekat.

Ibu Suartini berangkat ke Pasir Pinus meski kondisi hujan

Sebenarnya Guru Agama jebolan Yamisa Soreang Bandung ini sering mendapat gangguan entah apalah itu yang jelas ia percaya mereka sama sebagai makhluk Allah. Terkadang kalau absen sore kondisi mendung atau hujan dengan suara-suara insecta hutan yang saling bersahutan, tiba-tiba ada yang melemparnya dengan batu, padahal tidak ada satu orang pun di sekitar itu. Tapi semua itu tak pernah menyurutkan langkahnya untuk memperjuangkan kehadirannya dengan cara daring. Setelah mendengar keluhan-keluhannya selama ini, alhamdulillah pihak Kemenag memberikan keringanan untuknya dengan membolehkan menggunakan absen manual.

Hikmah yang bisa diambil dari kisah bu Suartini ini, bahwa kita patut bersyukur dan jangan merasa berat melaksanakan tugas kita sekarang ini, karena ada guru yang perjuangannya lebih berat lagi dari kita. Kesabaran, kerja keras dan keuletan Bu Suartini ini patut kita contoh, semoga ia cepat diangkat oleh pemerintah sebagai PNS atau PPK. Selain itu, semoga tulisan ini juga menginspirasi para pemangku kepentingan untuk dapat memberikan solusi terbaik terhadap sistem pembelajaran di beberapa daerah yang memiliki keterbatasan dalam menerima jaringan internet. (Tulisan ini seperti yang dikisahkan langsung oleh Ibu Suartini kepada penulis).


 Penulis

Lina Herlina, S.Ag., M.Pd.I  adalah seorang pendidik mata Pelajaran PAIBP di SMPN 3 Limbangan Kabupaten Garut, yang memiliki hobby menulis. Buku pertamanya yang berjudul Ayah adalah debut pertamanya di dunia tulis menulis. Karya berikutnya Garut di mataku, Ibu, Bidadari surgaku, Berjuang sendiri melawan kanker, Kenapa Remaja Sayat Tangannya dan Menguak misteri Gunung Haruman dan Kaledong dan Buku kolaborasi 1001 Macam (Pandemi).



                                                  










Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "PEJUANG ABSEN DARING DARI GARUT SELATAN"

Post a Comment