Sehelai Daun

Oleh Umie Noor

    Bu Sinta berdiri di depan gerbang pondok pesantren Al Jannah yang berdiri kokoh. Situasi pandemi seperti ini, peraturan pesanten melarang masuk setiap pengunjung walaupun orang tua. Sementara Pak Yon, suaminya menunggu di mobil yang diparkir tidak jauh dari tempatnya berdiri.

    Tidak sampai limabelas menit, pengurus pesantren yang ditemui bu Sinta  barusan telah kembali dengan Maulana. Dia salah seorang santri  kelas sebelas yang sedang belajar di pondok pesantren Al Jannah ini. Sewaktu di sekolah dasar,  Maulana adalah salah seorang murid sekaligus tetangga bu Sinta. Dengan senyum kecil dan nampak sedikit bingung anak itu mendekati bu Sinta., lalu bertanya.

    "Ibu disuruh mamah jemput saya?"

    "Iya, sudah sekalian dibawa, perlengkapannya?" Bu Sinta balik bertanya.

    "Sudah bu" Jawab Maulana.

    "Ayo naik!", Ajak bu Sinta sambil membukakan pintu mobil samping kanan untuk Maulana

    Bu Sinta masuk mobil dari pintu samping kiri setelah sebelumnya berbicara dan berpamitan pada pengurus pesantren.

    "Ayo, Pah" Bu Sinta memberi aba-aba jalan pada suaminya Mobilpun bergerak perlahan meninggalkan pesantren

    "Tadi lagi di kelas? ibu kira libur" tanya bu Sinta pada Maulana yang duduk di sebelahnya.

    "Iya bu, di sini liburnya Jumat" Jawab Maulana.

    “ Oh, begitu?” tukas bu Sinta pendek.

    Mobilpun perlahan meninggalkan komplek Pesantren Al Jannah. Memasuki  jalur jalan provinsi yang ramai, namun lancar. Sekitar dua puluh lima menit, mereka di jalur provinsi, kini  mereka sudah memasuki jalan kabupaten yang lebih padat. Artinya sekitar dua puluh menit lagi kami sampai di rumah. 

    "Pah, kalau ada fried chicken berhenti sebentar ya!" kata bu Sinta pada suaminya  yang duduk di belakang kemudi.

    "Ya, Mah" jawab suaminya sambil pandangan tidak beralih dari jalan raya.

    "Maulana, kapan terakhir pulang?" Tanya bu Sinta. Sejak masih jadi murid bu Sinta,  Maulana ini anaknya memang pendiam, tidak banyak bicara dan pasif kalau di ajak ngobrol. 

    "Waktu lebaran haji kemarin, bu!" jawab Maulana.

    "Ohhh.,  Kembali ke pondok sama siapa?" tanya bu Sinta lagi

    "Diantar sama Ayah" jawab anak itu

    “Sejak itu berarti belum ketemu lagi sama Ayah dan Bunda, ya?” tanya bu Sinta.

    “Iya belum, Bu. Kan enggak boleh di tengok” Jelas Maulana.

    “Sekarang peraturan semua pesantren, memang  begitu, enggak apa-apa, biar aman” tukas bu Sinta.

    "Pah... Pah, berhenti!" Bu Sinta sedikit berteriak manakala dilihatnya kios Fried chicken di sebelah kiri hampir terlewati. Pak Yon mengurangi laju kendaraan sambil menepi. Bu Sinta  bergegas turun dan menghampiri kios. Dia kembali ke mobil setelah membayar sepotong ayam goreng dan sebungkus nasi lalu  masuk ke mobil dan duduk lagi  sebelah Maulana.

    "Maulana makan dulu, Nak" kata Bu Sinta, dengan nada sedikit memerintah, sambil menyodorkan bungkusan pada Maulana. Maulana agak ragu menerimanya.

    "Yang makan, saya saja, Bu?" Tanya Maulana

    "Iya, gapapa. Ibu dan Pak Yon sudah makan" kata bu Sinta. Sambil menunjuk suaminya yang duduk di belakang kemudi, di depan Maulana.

    Dengan sedikit canggung Maulana menyuapkan nasi dan ayam yang ada di tangannya, setelah sebelumnya cuci tangan dengan tissu basah yang Bu Sinta sodorkan padanya.

    "Itu minumnya, Nak" kata Bu Sinta sambil menunjuk botol air mineral di pintu mobil.

    "Iya bu" jawab Maulana sambil mengunyah makannya.

Ponsel bu Sinta berbunyi, sebuah pesan WA masuk.

    "Sudah sampai mana, Bu?" ternyata pesan WA dari pak Joko, ketua RW.

    " Sudah sampai simpang lima”  Tulis bu Sinta menjawab pesan dari pak Joko, artinya perjalanan mereka akan sampai dalam sepuluh menit lagi.

    "Koq makannya enggak habis?" tanya bu Sinta ketika dilihatnya Maulana membungkus kembali sisa makannya dan memasukannya ke kantong plastik.

    "Sudah kenyang, Bu" jawabnya. 

    Mobil yang mereka tumpangi masih melaju kencang setelah melewati simpang lima, masuk ke jalan Gatot Subroto. kemudian  lurus  sampai bunderan, lalu  belok kanan masuk ke jalan ir. H. Juanda. Pak Yon mengurangi kecepatannya  setelah di ujung jalan Juanda,  karena harus belok kanan untuk menyeberang masuk ke komplek perumahan tempat mereka tinggal.   Masuk gerbang komplek perumahan kemudian  melewati mesjid dan  terus lurus melewati jalur utama komplek. Tepat di gang Lima, Pak Yon membelokkan kendaraannya dan masuk ke gang tersebut. Laju kendaraan masuk. semakin melambat dan bergerak perlahan menuju gang empat.

"Parkir di sini aja, Pah!". Kata bu Sinta

"iya" jawab pak Yon,  pendek.

    Tepat di depan gang empat secarik bendera kertas warna kuning di pasang. Para tetangga berkerumun di beberapa tempat,  dua orang yang sedang berdiri, bergegas mendekati mobil yang dikemudikan Pak Yon.

    "Ada apa ini, bu?" Maulana bertanya dengan nada bingung.

    "Sabar ya, Nak. ayahmu sudah dipanggil Yang Maha Kuasa!" Jawab bu Sinta, sambil mengelus kepala Maulana yang menyandar ke kursi mobil.

    "Ya Allah...!" Lirih Maulana. Nadanya nampak begitu tertekan, penuh emosi, kedua telapak tangan Maulana   menutupi wajahnya kuat-kuat  sementara  kedua matanya terpejam. Bu Sinta memperhatikan anak ini dengan  air mata  menggantung dibalik kacamatanya.  Dada Maulana  terlihat turun naik menahan isak, sesaat  Bu Sinta membiarkan anak ini meluapkan emosinya. .

    "Ayah  kenapa, Bu?" Tanya Maulana lagi, dengan kedua tangan masih menutupi wajahnya.

    "Ibu juga tidak tahu, tadi pagi kami masih subuh berjamaah di mesjid. Pukul sembilan,  Ibu dengar ayahmu sesak napas, lalu di bawa ke rumah sakit.  Dua puluh menit kemudian Ibu dapat kabar lagi kalau ayahmu sudah tiada". Jelas Bu Sinta 

    "Yang ikhlas ya, Nak.  Ibu tahu, Maulana anak yang sholeh, tabah dan kuat" Bu Sinta melanjutkan bicara sambil menahan isak. 

    Sementara pak Yon sudah turun dari mobil dan membukakan pintu mobil samping kanan dengan di dampingi pak Joko dan pak Budi.

    "Yuk, !" ajak pak Yon pada Maulana sambil mengulurkan tangan.

    Bu Sinta mengambil tas yang di pegang Maulana. Dengan dipapah pak Yon dan pak Joko, Maulana berjalan gontai. Bu Sinta tak tega melihat remaja ini begitu sedih. Dengan sedikit bergegas dia  berjalan duluan menuju rumah yang selisih empat rumah dari tempat mereka parkir. 

    Kerumunan para tetangga dan sahabat memenuhi teras rumah, ada juga yang duduk di lahan kosong depan rumah duka. Jalan depan rumah juga dipasangi tenda. Mereka semua terusik dengan kedatangan kami. Semua mata tertuju pada kami, terutama pada Maulana dengan berbagai perasaan duka, kasian, prihatin dan rasa sedih yang mendalam.

    "Assalaamu ‘alaikum" Bu Sinta mengucapkan salam saat  melewati kerumunan orang-orang itu. Bu Sinta dengan diikuti Maulana langsung menerobos masuk kedalam rumah yang juga sesak dengan para peta’ziah. Tampak ditengah-tengah peta’ziah yang duduk memenuhi ruangan tersebut  sesosok tubuh  terbalut kain kafan terbujur kaku di atas keranda yang belum ditutup. Yang tampak hanya sebagian wajahnya saja yang masih disisakan. Sebagian wajah lain sudah tertutup kapas putih.

    Bu Yati yang duduk disebelah jasad suaminya, menghambur menghampiri dan memeluk anaknya sambil setengah berteriak.

    "Nak, Ayah sudah tiada!" seru bu Yati. 

    Bu Yati memeluk Maulana,  Maulana balas memeluk ibunya erat. Keduanya larut dalam isak tangis sambil berpelukan. Semua yang hadir larut dalam kesedihan yang mendalam.  Ada yang tersedu-sedu, ada yang terisak dan ada yang tertunduk sambil memejamkan mata. Bu Sinta menyeka air yang menetes di balik kacamatanya  dengan selembar tissu yang dari tadi dipegangnya..

    Ustadz Fahmi yang dari tadi duduk di samping kepala jenazah perlahan berdiri dan mendekati ibu anak yang berpelukan sambil menangis itu. 

"Maulana, yang tabah ya!. Ayah mau di tutup, berikan ciuman terakhir untuk Ayahmu!" ujar ustadz muda itu sambil memegang bahu Maulana.

    Perlahan bu Yati melepaskan pelukannya, "Nak, temuin ayah" perintah bu Yati pada anaknya.

    Bu Sinta mendekati Maulana, sambil memegang pundaknya dengan penuh iba, lalu dia  berpesan "Nak, jangan sirami ayahmu dengan airmata, yang ikhlas,  yang kuat ya!”. Maulana mengangguk kecil, sambil perlahan bersimpuh di dekat kepala jasad ayahnya.

    "Cium ayah sambil baca shalawat" pesan ustadz Fahmi. Maulana mencium kening jenazah Pak Nurdin, Maulana menciumnya agak lama sambil memejamkan mata. Bu Sinta sedikit menjulurkan  kepala untuk melihat terakhir kali wajah tetangganya itu.. Wajah pak Nurdin tampak putih bersih bercahaya  dan senyum kecil tersungging di bibirnya. Masha Allah, sungguh akhir yang indah. Batin bu Sinta  trenyuh sambil berkata “Ya Allah, beri aku akhir hidup yang indah!”. Tak terasa air matanya semakin deras mengalir tatkala terkenang begitu banyak dosa yang ia lakukan, diapun merasa sangat menyesal dengan maksiat-maksiat yang sering dilakukannya. “Ya Robb, ampunilah aku!” Batinnya menjerit, napasnya sedikit tersenggal menahan tangis yang hampir pecah. .  

    Hari ini Bu Sinta dan seluruh warga komplek  kehilangan sosok bersahaja Pak Nurdin. Beliau salah seorang ustadz di lingkungan tempat tinggal mereka. Pribadinya sederhana, mudah bergaul dan selalu aktif dalam setiap kegiatan di lingkungannya. Membuat warga sangat kehilangan atas kepergiannya. Semoga semua amalnya  menjadi ladang pahala baginya. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

    Hari ini sehelai daun telah luruh ke bumi, dan tiada  sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. “Sesungguhnya kita semua adalah milik Allah dan kepad-Nyalah kita semua pasti akan kembali”.


                                    Indramayu, 280920

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sehelai Daun"

Post a Comment