Pembelajaran Menulis Puisi Itu Sulit, Benarkah?

 Oleh Listiani Tular Kurniasih, S.Pd.

Guru SMPN 1 Tambun Selatan


  1. Miskonsepsi Menulis Puisi di Kalangan Peserta Didik

Menurut Sayuti (2002:3), puisi adalah sebentuk pengucapan bahasa yang mempertimbangkan adanya aspek bunyi-bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya serta diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengar-pendengarnya. Sebagai salah satu genre karya sastra puisi memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan. Seperti yang dikatakan oleh Horatius, pujangga besar Yunani, sastra memiliki dua fungsi utama, yakni dulce et utile. Dulce yang berarti menghibur atau menyenangkan dan utile yang berarti bermanfaat atau mendidik. Pun dengan puisi tentu memiliki hakikat fungsi yang sama. Agar puisi dapat menghibur dan bermanfaat tentu unsur-unsur pembangun puisi menjadi faktor penting yang harus diperhatikan.

Puisi tak lepas dari makna yang terkandung di dalamnya. Pembentukan makna utuh suatu puisi diperlukan unsur pembangun puisi yang terdiri atas unsur fisik dan unsur batin. Unsur fisik adalah unsur yang secara fisik tampak dan dapat dilihat, seperti rima, gaya bahasa (majas), imaji atau citraan, diksi, dan perwajahan (tipografi). Rima, gaya bahasa, imaji, dan diksi tampak melalui kata atau frasa yang digunakan dalam puisi. Perwajahan (tipografi) puisi tampak melalui bentuk penyajian puisi. Unsur batin puisi puisi merupakan unsur yang ada di dalam batin puisi (Waluyo, 1995:47). Unsur batin ini merupakan makna yang ingin disampaikan penyair dalam puisinya. Makna puisi ini tersirat, berada di balik unsur fisiknya. I.A.Richards (melalui Waluyo, 1995:180-181) menyebutkan makna atau stuktur batin puisi itu ada empat, yakni tema (sense), perasaan penyair (feeling), nada atau sikap penyair terhadap pembaca (tone), dan amanat (intention). Unsur fisik dan unsur batin dalam puisi sangatlah saling berkaitan. Pembaca bisa menemukan unsur batin puisi setelah memahami makna dalam setiap diksi, gaya bahasa, atau perwajahannya melalui analisis unsur fisik puisi. Peran kedua unsur pembangun puisi baik fisik maupun batin tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan dalam membentuk makna atau isi keseluruhan sebuah puisi.

Berkenaan dengan pembelajaran menulis puisi, beberapa miskonsepsi yang melekat dan menjadi hambatan peserta didik untuk menulis puisi. Dalam hal ini, peserta didik menganggap bahwa pembelajaran menulis puisi menjadi sulit karena harus menggunakan rima dan mencari kata-kata sulit yang jarang ditemukan sehingga dapat membuat pembaca tertarik. Bagi seorang pemula atau peserta didik yang ingin belajar menulis puisi, hal ini menjadi momok tersendiri. Akhirnya, peserta didik menjadi tidak berani mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalamannya dalam bentuk puisi.

Padahal dalam jenis puisi baru atau modern penggunaan rima tidak lagi menjadi syarat yang mengikat sebuah puisi seperti halnya pada puisi lama atau rakyat. Selain itu, unsur-unsur pembangun puisi juga tidak hanya berfokus rima, tetapi masih banyak unsur pembangun lainnya yang dapat membangun puisi menjadi suatu karya yang indah. Sementara itu itu diksi bukanlah berarti kata-kata sulit yang jarang ditemukan, tetapi pilihan kata yang tepat dan mendukung makna puisi agar sampai kepada pembacanya. Inilah miskonsepsi yang sering ditemukan dalam pembelajaran menulis puisi. Sangat disayangkan bukan, kesalahan asumsi ini membuat peserta didik tidak berani menunjukkan kemampuan mereka dalam menulis puisi?


  1. Puisi Akrostik sebagai Solusi Alternatif

Seorang guru yang profesional memiliki peran penting dalam membantu peserta didik untuk mengasah kemampuan atau potensinya dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi mereka. Berkenaan dengan pembelajaran menulis puisi, sebelum beralih pada teknik menulis puisi, guru harus berusaha menghilangkan miskonsepsi yang melekat dalam diri peserta didik terkait pembelajaran menulis puisi. Pastikan guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan membuat peserta didik mencintai puisi. Hal ini tentu berawal dari rasa cinta sang guru pada puisi. Selain itu, arahkan peserta didik memulai menulis puisi untuk dirinya sendiri. Buatlah mereka menulis puisi untuk memberikan hiburan dan manfaat tersendiri bagi dirinya terlebih dahulu tanpa terbebani oleh penilaian pembaca. Dengan begitu, peserta didik akan lebih berani mengungkapkan ide, perasaan, dan pengalamannya dalam bentuk puisi. Selanjutnya, barulah guru dapat memperkenalkan teknik tertentu yang dapat membantu peserta didik menulis puisi. Salah satu teknik tersebut adalah teknik akrostik dalam menulis puisi.

Kata Akrostik berasal dari kata dalam bahasa Prancis yaitu acrostiche dan dari bahasa Yunani yaitu akrostichis yang artinya sebuah sajak yang huruf awal baris-barisnya menyusun sebuah atau beberapa kata (Sudibyo, 2008). Puisi akrostik berbeda dengan puisi-puisi lain karena huruf-huruf pertama tiap baris mengeja sebuah kata yang dapat dibaca secara vertikal. Pola rima dan jumlah angka baris dapat bervariasi dalam puisi akrostik karena puisi akrostik lebih dari puisi deskriptif yang mana menjelaskan kata yang dibentuk. Dari penjelasan mengenai puisi akrostik di atas, peserta didik akan lebih mudah menyusun kata-kata karena sudah ada rangsangan sebelumnya dari huruf awal yang disusun secara vertikal dan membentuk kata. Puisi akrostik cenderung lebih mudah dibuat bagi peserta didik. Puisi ini dapat digunakan sebagai teknik untuk latihan menulis puisi sekaligus belajar memilih diksi yang tepat dan unsur pembangun puisi lainnya yang mendukung keindahan puisi.

Contoh Puisi Akrostik

Delapan A

Dekap mimpimu, Nak!

Etos belajar janganlah lupa

Luhur budi pegang agama

Akan kunanti di suatu kala

Pesona emas cita merengkuhmu nyata

Asal kau jauh berputus asa

Nak, Ibu hanya bisa berdoa


Agar Tuhan memelukmu selalu

Dalam menulis puisi akrostik, perbendaharaan kata masing-masing berbeda. Pengalaman dalam membaca puisi sangat mempengaruhi hasil tulisan puisi. Semakin banyak dalam membaca puisi, maka semakin banyak pula kata- kata yang akan dipilihnya dan dikembangkan dalam puisinya sehingga hasil karya puisinya pun mempunyai nilai estetika yang semakin tinggi pula. Adapun cara mengenai pelaksanaan teknik akrostik dalam menulis puisi menurut Fleisher (2013: 171-174), yakni sebagai berikut:

  1. Pendidik menyampaikan materi

Sebelum dilakukannya teknik akrostik ini, terlebih dahulu pendidik menerangkan materi-materi secara keseluruhan yang diajarkan kepada peserta didik di kelas. Kemudian pada saat pengenalan sebuah kosakata-kosakata baru, pendidik memberikan penjelasan tentang teknik akrostik untuk mempermudah peserta didik menulis puisi yang diajarkan tersebut.

2. Penjelasan mengenai teknik akrostik

Pendidik menjelaskan bahwa teknik akrostik yang dimaksud adalah sebuah teknik menulis puisi dengan cara mengambil huruf depan, tengah, atau akhir dalam sebuah kata yang disusun secara vertikal dan dijadikan sebuah puisi. Namun, biasanya untuk mempermudah peserta didik latihan menulis puisi, dapat mengambil huruf depan sebagai teknik akrostik dalam menulis puisi.

3. Penyusunan puisi akrostik

Untuk mempermudah dalam menyusun puisi dan menambah keindahan puisi. teknik akrostik dilakukan dengan cara mengambil huruf awal, tengah, atau akhir dalam sebuah kata kemudian dikembangkan menjadi susunan kalimat dalam tiap larik puisi.

4. Evaluasi

Setelah pendidik selesai menyajikan materi ajar kepada peserta didik, pada tahap evaluasi ini pendidik memberikan sebuah soal atau tes menulis puisi saat pembelajaran akan selesai. Soal atau tes tersebut juga bertujuan untuk mengukur seberapa besar pengaruh teknik akrostik dalam pembelajaran menulis puisi peserta didik yang berpedoman pada rubrik dan pedoman penilaian.


  1. Simpulan

Pembelajaran menulis puisi itu sulit, benarkah? Setiap pembelajaran pasti membutuhkan proses untuk mencapai suatu kemahiran atau keterampilan. Pun dalam menulis puisi. Proses pembelajaran yang bermakna harus peserta didik dapatkan agar mereka berani menulis puisi. Asumsi yang salah dan menjadi hambatan bagi peserta didik dalam menulis puisi harus dihilangkan terlebih dahulu. Tanamkan kepercayaan diri dan keberanian untuk menulis puisi dalam diri peserta didik. Perkara apakah puisi itu bagus atau tidak itu urusan belakangan. Lagipula nilai estetika tiap individu tentu berbeda.

Dalam pembelajaran menulis puisi, guru juga harus menggunakan teknik tertentu yang dapat mempermudah peserta didik menulis puisi. Salah satunya adalah puisi akrostik. Teknik ini dapat dijadikan sebagai solusi alternatif untuk latihan menulis puisi. Sampaikan materi ini dengan sangat menarik dan berikan contoh-contoh puisi akrostik yang dapat guru ambil dari karya sendiri atau guru-guru lain yang peserta didik kenal. Hal ini memberikan motivasi tersendiri bagi peserta didik untuk berani menulis puisi. Jika tak ada kita dapat mengambil contoh puisi akrostik milik orang lain tanpa mengurangi pemberian motivasi bagi peserta didik. Sebagai bahan apresiasi guru kepada para peserta didik, guru dapat mempublikasikan karya peserta didik tersebut di media sosial, mading sekolah, menjadi antologi puisi akrostik, atau media lainnya. Hal ini juga dapat menambah kepercayaan diri peserta didik dalam berkarya terutama menulis puisi. Jika sudah demikian, apakah menulis puisi masih dikatakan sulit? Tentu saja TIDAK.


Daftar Pustaka

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2020. Genre Puisi dalam Kurikulum 2013. Jakarta: Modul PPG dalam Jabatan Kemdikbud.

Pirnawati, Mamik. 2015. Peningkatan Kemampuan Menulis Puisi dengan Teknik Menulis Puisi Akrostik. Surabaya: Kresna Bina Insan Prima.

Putri, Eka Maharani. 2019. Puisi Akrostik (Cara Mudah Membuat Puisi). Kuningan: Goresan Pena.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pembelajaran Menulis Puisi Itu Sulit, Benarkah?"

Post a Comment